Lahore – Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam lebih, pukul 18.25 PKT, kami tiba di Lahore. Malam itu (27/03/19) Lahore tak sedingin Islamabad. Jalan-jalan yang berlubang, kendaraan yang tak pernah teratur, masih saja menjadi pemandangan wajib kota ini.

Hotel Avari Lahore menjadi tujuan utama kami malam itu. Begitu sampai di loby hotel, lelaki berkaca mata dan bertopi hijau dengan tulisan “Pakistan Zindabad” tampak duduk.

Assalamu’alaikum pak Dahlan,” sapa Ketua Umum Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Pakistan, Fahmi Wira Angkasa kepada mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) era Susilo Bambang Yudhoyono, Dahlan Iskan.

Wajahnya teduh, sambil tersenyum beliau langsung menyalami dan menyapa kami. Kami langsung diajak untuk makan malam dan berdiskusi kecil-kecilan di sekitar Lahore.

“Bapak, kami ingin minta nasehat dari bapak,” kata Fahmi di tengah-tengah makan malam.

Dahlan tersenyum, sepintas seperti ingin memberi pesan yang sangat dalam. Iringan lagu india sembari pemandangan Masjid Badshahi tampak dari atas Rooftop salah satu restoran di Street Food, Lahore.

“Jangan meminta nasehat kepada saya. Jangan meminta nasehat dari orang seumuran saya,” Dahlan menghela nafas.

Sambil menikmati Naan, – semecam roti dari pakistan, mantan Direktur Perusahaan Listrik Negara (PLN) Pusat itu enggan memberi nasehat.

“Zaman kita sudah berbeda, zaman saya dulu sudah tidak seperti zaman anda sekalian,” tuturnya sambil sesekali menggerakkan kepalanya menikmati alunan musik India.

Dahlan percaya bahwa seorang mahasiswa sudah cukup umur dalam memutuskan segala perkara, termasuk masa depan sendiri.

“Latihan membuat keputusan, nanti kau akan tahu mana yang benar dan mana yang salah,” ujarnya di hadapan 5 mahasiswa PPMI Pakistan.

Dalam mengambil keputusan, lanjutnya, jangan pernah salah dan terlambat. Katanya, fokus terhadap satu titik adalah yang paling utama.

“Sudah cukup bekal keimuan dan kedewasaan kalian. Setelah lulus, segera tentukan apa yang ingin kalian capai, jika telat kalian akan kehilangan momen paling berharga dalam hidup kalian,” senyumnya tersungging, matanya penuh harap.

Sesekali, Dahlan bertanya tentang hal-hal unik yang ia jumpai selama di Pakistan. Beground seorang wartawan sepertinya masih menempel dalam dirinya.

Di hadapan lelaki berumur 68 tahun itu, 5 pemuda tersebut bertaruh dengan cita-cita yang telah mereka ungkapkan. Wajah kota Lahore tampak jelas dari lantai 8 restoran tersebut. Lampunya yang remang, penduduk yang padat, serta bangunan yang berdempetan menjadi ciri khas.

4 jam yang bermakna, pertemuan yang sangat singkat tapi tidak bisa dibeli dengan uang berapapun. Kami belajar dari semangatnya yang tidak pernah tua. Wajahnya mungkin sudah semakin keriput, tapi keberaniannya tidak pernah menciut.

“Kuliah bukan untuk menjadi pintar, kuliah itu untuk kalian mencari akses sebanyak-banyaknya,” tuturnya sebelum kami berpisah.

“Terimakasih, malam ini saya merasa senang dan merasa khusnul khotimah bisa berjumpa kalian,” lagi-lagi senyumnya terbit. Esoknya, Dahlan akan melanjutkan perjalanannya menuju Oman.

Tidak banyak nasehat yang Dahlan ucapkan. Tapi kami belajar banyak dari diamnya. Setiap perjalanan bukan hanya sekedar singgah lalu pergi, ada hikmah yang Tuhan titipkan lewat sesorang. Malam ini, Tuhan menitipkan itu dari orang kampung itu. Lahore yang terkenal dengan peninggalan sejarahnya, menjadi saksi bisu pertaruhan mahasiswa dengan masa depan mereka.DAHLAN

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *