Oleh: Chung

Semenjak beberapa tahun yang lalu sering kita dengar bahwasannya pada tanggal lima belas Ramadhan akan muncul sebuah gempa yang sangat besar, apalagi jika tanggal lima belas Ramadhan tersebut jatuh tepat ketika hari Kamis malam atau malam Jumat. Pernyataan ini memang sedikit agak menggemparkan kita, ketika seseorang sedang khusyuk melakukan amal kebajikan guna menyemarakan bulan yang penuh akan lipat ganda pahala. Banyak di kalangan masyarakat yang berpedoman dengan hadits ini, sehingga banyak kita jumpai dalam grup-grup whatsapp broadcasthadits ini. Pendapat terebut bukan tanpa alasan, sebab ada sebuah hadits yang menerangkan akan hal itu. hadits tersebut kiranya berbunyi seperti ini:

حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ، عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَتْ صَيْحَةٌ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَعْمَعَةٌ فِي شَوَّالٍ، وَتَمْيِيزُ الْقَبَائِلِ فِي ذِيِ الْقَعْدَةِ، وَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي ذِيِ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ، وَمَا الْمُحَرَّمُ» ، يَقُولُهَا ثَلَاثًا، «هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، يُقْتَلُ النَّاسُ فِيهَا هَرْجًا هَرْجًا» قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الصَّيْحَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: ” هَدَّةٌ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ، فَتَكُونُ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ، وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ، وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُورِهِنَّ، فِي لَيْلَةِ جُمُعَةٍ، فِي سَنَةٍ كَثِيرَةِ الزَّلَازِلِ، فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْفَجْرَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَادْخُلُوا بُيُوتَكُمْ، وَاغْلِقُوا أَبْوَابَكُمْ، وَسُدُّوا كُوَاكُمْ، وَدِثِّرُوا أَنْفُسَكُمْ، وَسُدُّوا آذَانَكُمْ، فَإِذَا حَسَسْتُمْ بِالصَّيْحَةِ فَخِرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا، وَقُولُوا: سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، رَبُّنَا الْقُدُّوسُ، فَإِنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ “

Artinya:

“Dari Abdullah ibn Mas’ud dari Nabi SAW berkata : apabila terdengar suara dahsyat terjadi ketika bulan Ramadhan, maka akan terjadi sebuah huru-hara pada bulan Syawal, semua suku akan saling berselisih pada bulan Dzulqa’dah, pertumpahan darah terjadi pada bulan Dzulhijjah dan Muharam, dan apa itu Muharam? “Pada bulan itu banyak manusia yang terbunuh”. Rasulullah sampai mengulanginya sebanyak tiga kali. Para sahabat pun bertanya, “Suara dahsyat apa itu Rasul?” Rasulullah menjawab : “Suara keras yang terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, yaitu tepatnya malam Jum’at, itu suara dahsyat yang nanti akan mengagetkan orang-orang yang sedang tertidur, membuat orang yang berdiri menjadi duduk, para wanita terhempas keluar dari kamarnya, pada malam Jum’at di tahun tersebut akan banyak terjadi gempa bumi. Jika kalian telah melaksanakan shalat Shubuh di hari Jum’at nya maka masuklah ke dalam rumah, kunci pintu rumah, tutup lubang-lubangnya, lindungi diri kalian dengan selimut, tutuplah telinga kalian. Jika kalian merasakan suara dahsyat, maka agungkanlah Allah SWT dengan bersujud, dan berdoa “Subhanal quddus, Subhanal quddus, Subhanal qudus, Rabbunal qudus”. Orang yang melakukan hal tersebut akan selamat, dan yang tidak melakukannya akan celaka”

Kritik Sanad

Sanad dari hadits ini seperti ini :

Hammad ibn Waqid atau Abu Umar

Abdullah ibn Lahi’ah atau ibn Lahi’ah

Abdul Wahhab ibn Husain

Muhammad ibn Tsabit Al-Bananiy

Al-Harits Al-Hamdaniy

Abdullah ibn Mas’ud

Hadits ini dapat kita jumpai dalam kitab Silsilah Dha’ifah imam Al-baniy (13 : 1058) hadits nomor 6471, dapat pula kita jumpai juga dalam kitab Al-Fitan imam Nu’aim ibn Hammad (1 : 228) hadits nomor 638.

Jika kita telisik lebih jauh sanad dari hadits ini maka kita akan sedikit terperanjat,kita akan menjumpai hampir semua rawi yang meriwayatkan hadits ini kesemuanya memiliki titik lemah. Mari kita bahas satu-satu rawi dari hadits ini.

1. Al-Harits Al-Hamdaniy, Nama orang ini adalah Al-Harits ibn Abdullah Al-A’war Al-Hamdaniy Al-Kharifiy Abu Zuhair Al-Kufiy. Ada sebagian kalangan ahli hadits menyebutnya sebagai Al-Harits ibn Ubaid.

Yahya ibn Ma’in mensifatinya dengan dhaif, Abu Zur’ah tidak mengambil hadits dari Al-Harits Al-Hamdaniy, Imam Nasa’i mensifati rawi ini dengan seseorang yang tidak kuat hafalannya, Abu Hatim juga mensifati rawi ini dengan seseorang yang tidak kuat hafalannya. (lihat Tahdzibul Kamal5 : 244) (Thabaqat ibn Sa’ad 6 : 168) (Dhua’fa li Abi Zar’ah57) (Tahdzibu Tahdzib 2 : 147) (Al-kasyif 1 : 195)

2. Muhammad ibn Tsabit Al-Bananiy, Nama asli dari rawi ini adalah Muhammad ibn Tsabit ibn Aslam Al-bananiy Al-bashriy.

Abu Hatim mensifati rawi ini sebagai seorang yang munkarul hadits, Imam Bukhari berpendapat bahwa rawi ini perlu ditinjau lagi, imam Abu Daud dan Nasa’i mensifati rawi ini sebagai seorang yang dhaif. (Tahdzibul Kamal 24 : 548) (Majruhin ibn Hibban 2 : 252) (Mizanul I’tidal 3 ) (Tarikh Ad-Duriy 2 : 507)

Rawi ini sejatinya adalah seorang anak dari Tabi’in yang bernama Tsabit ibn Aslam Al-bananiy. Rawi ini sebenernya tidak pernah bertemu dan mengambil hadits ini dari Al-Harits Al-hamdaniy, di dalam literatur ahli hadits tidak dijelaskan bahwa rawi ini mempunyai guru yang bernama Al-Harits Al-Hamdaniy.

3. Abdul Wahab ibn Husain, kita tidak perlu membahas rawi ini lebih mendetail sebab rawi ini tidak diketahui oleh ahli hadits, atau biasa dalam ilmu hadits seorang rawi yang seperti ini disebut sebagai seorang rawi yang majhul.

4. Abdullah ibn Lahi’ah atau ibn Lahi’ah, Rawi ini sebenarnya seorang yang adil dan dapat dipercaya. Dalam sisi hafalan atau dhabitnya perlu di garis bawahi, rawi ini sebenernya melakukan hafalan dengan cara dicatat. Akan tetapi empat tahun sebelum beliau meninggal rumahnya terbakar dan semua buku cacatannya terbakar, semenjak peristiwa itulah hafalan dari ibn Lahi’ah terganggu.
5. Hammad ibn Waqid, rawi ini juga memiliki julukan dengan Abu Umar. Nama asli dari rawi ini adalah Hammad ibn Waqid Al-iisiy, Abu Umar As-Shafaar Al-Basriy.

Banyak ulama hadits yang berkomentar akan rawi ini, mulai dari Yahya ibn Main yang menyebutnya sebagai seorang yang dhaif. Imam Al-Fallas menyebutnya sebagai seorang rawi yang banyak ragu dan salahnya, imam Bukhari menyebutnya sebagai seorang yang munkarul hadits, imam Ad-Dzahabiy melemahkan rawi ini, imam Abu Hatim menyebutnya sebagai seorang yang lemah. Imam Tirmidzi menyebutnya sebagai seorang yang lemah hafalannya (Tahdzibul Kamal 7 : 289) (Tarikh Yahya bi Riwayah Ad-Duriy 2 : 133) (I’lal Ahmad 1 : 248) (Jami’ Tirmidzi 5 : 566)

Rawi ini juga sebenarnya  tidak pernah bertemu dan mengambil hadits dari Abdullah ibn Lahi’ah.  

Kesimpulan
1. Tidak bisa berhujjah menggunakan hadits ini, dari sisi sanad nya hadits ini sangat lemah sekali. Dari mulai sanadnya dua kali terputus hingga beberapa rawinya ada yang lemah, mulai dari tidak diketahui bagaimana sifatnya hingga rawi yang munkar sekalipun.

2. Kita tidak boleh untuk meramalkan apa yang akan terjadi di kemudian hari, sebagaimana firman Allah SWT “ ….Dan engkau tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, dan engkau juga tidak akan tahu di bumi mana engkau akan di matikan” -Luqman : 34-
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *