Akhir akhir ini rumahMu kami tinggalkan sementara.
Akhir akhir ini, kami saling silang curiga saat bersapa.
Akhir akhir ini, kami diam memencil dari luasnya dunia
Akhir akhir ini, kami ungkap sifat dasar manusia yang serakah.
Akhir akhir ini… Ah sudahlah, Lidahku lelah mengutuk realita.

Akhir akhir ini, kami hina nalar dan logika.
Akhir akhir ini, kami bernyanyi jauh dari nada.
Akhir akhir ini, kami lupa wujudnya rasa.
Akhir akhir ini, kami dipersimpangan jalan dua arah.
Akhir akhir ini…, Ah sudahlah, yg pasti kami banyak berubah.

Dari rakyat hingga wakilnya berkejaran dengan waktu di landasan pacu.
Sebagian mereka justru memilih untuk tidak tahu.
Ahli kesehatan berjibaku taruhkan nyawa satu persatu.
Para demagog habiskan waktu hanya terus berseteru.

Penganut teori bilang ini konspirasi pemuja hegemoni.
Usaha senyap potong jumlah populasi.
Atau, habisi musuh dengan perang biologi.
Atau, memang ini resiko dari mereka yang tak pernah memilah sesuatu untuk dikonsumsi.

Segala seolah berhenti bergerak.
Alam temukan jarak untuk berbenah diri.
Untuk sementara, perang terhenti di ujung pedang.
Kesunyian ini mendorong angin segar untuk dihirup.

Bukannya kami takut akan kematian.
Hanya ikhtiar coba kami maksimalkan.
Wabah itu meluas ke seluruh arah.
Dalam hati kami bertanya, hadirnya sebagai azab, musibah atau fitnah?.

Jika ajal sudah berlayar mendekat.
Tak kuasa hamba memutar kemudinya.
KepadaMu hamba berserah takdir.
Inikah cara Mu atur ulang kehidupan.

 
Oleh: Zulfikar Alamsyah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *