Kebanyakan dari kawan – kawan kita galau atau berada pada titik kegundahan dan dilema antara ingin melanjutkan kuliah nya di Indonesia bahkan di luar negri seusai menyelesaikan Sekolah Menengah Atas nya (SMA), juga para santri kadang kebingungan setelah mereka menyelesaikan masa pengababdian mereka selama satu tahun lamanya seusai mereka menjalani masa studi di Pesantrennya selama bertahun tahun. Hal seperti itu juga sempat saya rasakan, tatkala saya sendiri sedang berada di akhir akhir masa pengabdian di Pondok Pesantren dulu. Di tengah maraknya perguruan tinggi di Indonesia dan juga persaingan antara Universitas satu dengan yang lain nya membuat para calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi nya ke perguruan tinggi yang mereka impikan dan belajar di bidang yang ia damba dambakan harus bersaing dengan ketat untuk menembus semua itu dan mewujudkan apa yang meraka cita-cita kan.

Kalo sebagian orang banyak yang menginginkan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, tidak sedikit juga dari teman teman kita yang berkemauan untuk melanjutkan studinya di luar negeri, pasalnya seseorang yang lebih suka survive atau berpetualang di negeri orang yang jauh dari kampung halaman nya dan juga tertantang untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang yang bukan satu bahasa dengannya, berbeda wataknya dan juga adat istiadatnya, sehingga tatkala seseorang mengalaminya dan melewati semua lika-liku, pahit manis perjalanannya maka akan menjadi kepuasan tersendiri baginya. lebih dari itu karena masa masa terindah adalah suatu masa tatkala kita menuntut ilmu sebagaimana yang selalu Mbah Kiai pesankan pada santri-santrinya ketika saya masih nyantri dulu. terkadang untuk melanjutkan kuliah di luar negeri yang biasa selalu menjadi momok bagi orang banyak adalah masalah biaya dan pengurusan yang agak sulit untuk masuk ke salah satu kampus yang ditujunya. Mungkin banyak orang yang bertanya kepada saya pribadi, kok bisa sih lanjut sekolah di luar negeri, kenapa sih mesti ke Pakistan kan Pakistan seperti ini, itu dan sebagainya. maka saya akan berbagi sedikit pengalaman yang saya rasakan selama kuliah di Pakistan.

“kenapa sih kuliah ke Pakistan? disana kan konflik, banyak bom, lingkungan nya tidak kondusif dll. kok engga ke negara lain aja”. Pertanyaan yang hampir bosan mendengarnya, jawaban nya simpel aja karena takdir hahaha, tapi yah engga gitu juga kali yah, singkat nya gini setiap orang sudah punya destinasi masing masing kemana dia akan melanjutkan studinya, terlepas dari semua usaha dan upaya kita untuk mencapai nya, Allah yang memberikan final decision kemana kaki kita akan berpijak, maka disitulah kita harus belajar dan berbuat semaksimal mungkin, intinya kita gak usah iri sama teman-teman lain yang kelihatannya dia lebih prestige dari pada kita, yang pastinya kalau kita share sama dia tentang apa saja pahit manis dan negatif positif dari apa yang dia alamai pasti sama seperti kita. kalau untuk di Pakistan sendiri ada negatif yang saya rasakan tapi lebih banyak positif yang bisa kita ambil juga bahkan tidak ada di tempat lain selain di Pakistan.

Picture2

MENGUASAI 3 BAHASA BAHKAN LEBIH

Tidak asing apabila lulusan pakistan banyak yang menguasai 3 bahasa bahkan lebih, pasalnya disamping interaksi di kampus menggunakan bahasa Arab dan Inggris dan pemerintah pakistan sendiri yang memberlakukan bahasa inggris sebagai bahasa nasional kedua, official language, mereka mampunya bahasa nasional atau bahasa ibu yaitu bahasa Urdu yang mirip dengan bahasa India “acha acha nehi nehi” kurang lebih yang banyak didengar masyarakan indonesia secara umum menjadikan kita mau tidak mau harus mempelajari bahasa tersebut meskipun banyak para pekerja kantor dan juga buruh yang bisa berbicara menggunakan bahasa Inggris tapi ketika kita belanja ke pasar atau berinteraksi dengan pribumi kebanyakan menggunakan bahasa Urdu, karena bahasa Urdu merupakan mother language dari masyarakat Pakistan. Lebih dari pada itu apabila seorang mahasiswa tingkat interest terhadap mempelajari bahasa lain lebih tinggi dia bisa mempelajari bahasa Mandarin atau China karena orang China yang berdomisili di IIUI adalah komunitas terbesar setelah Pakistan selaku pribumi.

Winter PPMI

NEGERI 4 MUSIM DAN LIBURAN DI PAKISTAN

Pakistan yang berada di daerah Asia bagian selatan mejadikannya memiliki 4 Musim (Summer – Winter – Spring – Autumn). Di daerah Asia selatan ini bisa dibilang memiliki cuaca cuaca yang cukup ekstrim sehingga manjadikan kita orang Indonesia yang cuma memiliki 2 musim (Kemarau – Hujan) sepanjang tahun harus bisa beadaptasi dengan cuaca dan keadaan disana. Disaat musim panas datang suhu disana bisa mencapai 43 hingga 48 drajat celcius, apalagi ketika bulan puasa datang yang kebetulan pada bulan juni – juli dimana waktu fajar pada waktu itu adalah pukul 3.30 AM dan waktu Magrib pukul 7.45 PM pada puncak musim panas, kebanyakan para mahasiswa disana kocar kacir mencari suaka yang untuk berlindung dari panasnya dunia hahaha …. Di musim dingin suhu berkisar diantara 5 drajat sampai 12 bahkan pada puncaknya bisa kita rasakan sampai minus 1 atau 2. Meski demikian tapi musim dingin menjadi favorit semua penduduk Indonesia, karna pada musim ini ada sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan di Indonesia yaitu salju yang kadang kadang kepikiran lumayan juga kuliah di Pakistan bisa nemu salju udah kaya di Eropa – Eropa aja hahaha …… biasanya musim ini berkisan antara bulan Desember sampai dengan Maret jadi pada waktu liburan musim dingin selepas ujian akhir semester para mahasiswa sering mengadakan Trip nyalju bareng ke daerah atas Muree, Ayubia atau Mukhspuri.