mxuaWGx

Oleh: Adnin Zahir

Ketika Islam mencapai puncak kegemilangannya, tak sedikit yang merasa bahwa agama inilah yang akan menjadi ancaman terbesar bagi peradaban mereka. Pecahnya Perang Salib (The crusades) antara umat Islam dan Nasrani secara khusus menjadi pemicu bagi orang-orang Eropa untuk melakukan kajian terhadap Islam. Pasca perang Salib, gerakan ini semakin tumbuh pesat. Dunia barat perlu merumuskan strategi terbaru untuk menghadapi kekuatan kaum muslimin. Dengan sebab itu, mereka mulai melakukan kajian tentang bahasa Arab dan Islam dengan tujuan melemahkan iman kaum muslimin supaya menganggap bahwa ajaran Islam sudah tidak relevan dengan zaman. Usaha ini berlangsung terus menerus bahkan semakin subur hingga zaman sekarang.

Pengertian Orientalisme

Pengertian secara umum. Pengertian ini merupakan definisi yang dibatasi oleh kata orientalisme itu sendiri, yaitu metode berfikir ala Barat.[1] Pengertian ini mengandung makna yang umum dan luas. Dimana pengertian ini tidak hanya mencakup kajian akademis semata non akademispun juga termasuk melalui lembaga atau organisasi di Barat.

Pengertian secara khusus. Orientalisme merupakan studi akademis yang dilakukan oleh bangsa Barat dari negara-negara imperialis mengenai dunia Timur dengan segala aspeknya, baik mengenai sejarah, pengetahuan, bahasa, agama, tatanan social politik, hasil bumi serta semua potensinya.[2]  Dari definisi ini nampak kefanatikan terhadap ras dalam dunia orientalisme. Kefanatikan berasal dari anggapan bahwa peradaban Barat lebih unggul dari Timur dengan tujuan untuk menguasai peradaban mereka. Kajian Orientalisme tentang Islam jauh dari sikap objektif dan dilatarbelakangi oleh fanatisme belaka. Pemahaman melalui kaidah yang dibuat oleh mereka sendiri tak lain dan tak bukan adalah sebagai upaya untuk melemahkan dan menyesatkan iman kaum muslimin. Dan pelaku dari penyesatan umat ini kebanyakan dari golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasruni). Hal ini sudah diwartakan bahwa mereka akan terus menerus berupaya untuk menghancurkan kaum muslimin. Benarlah firman Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 69 :

وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya”

Sikap Orientalis Terhadap Rasulullah

Celaan terhadap Rasulullah saw. sudah dimulai ketika dia pertama kali menyeru kepada kalimatullah. Gelar “Al-Amin” yang didapatnyapun langsung lepas ketika ia mengajak untuk meninggalkan penyembahan pada masa jahiliyah. Perkembangan Islam di kawasan timur dan barat menjadi perhatian serius mereka. Sebagian besar dari mereka untuk memberikan sifat kepada Rasulullah saw. sebagai seorang pendusta, pengarang wahyu, pendiri Islam, dsb. Dari sinilah munculnya kedustaan-kedustaan yang mereka buat-buat dengan memberi julukan sebagai ahli sihir, manusia syahwati.

Menukil pernyataan R.W. Southern dalam bukunya Western Views of Islam in The Middle Ages hal. 72 : “ Adapun yang berkenaan dengan kehidupan Muhammad yang ditulis oleh cendikiawan Barat pada abad pertengahan dan dinukil dari para penulis Bizantium, jarang sekali yang menyajikan hakikat sebenarnya. Kesemuanya hanya berkisar tentang menikahi seorang janda kaya, mengidap penyakit ayan, dan belajar dari agama Nashrani. Dengan demikian, tulisan-tulisan tersebut sukar dipercaya kebenarannya. Yang sangat menyolok, tidak ada kaitannya dengan fakta perjalanan sejarah. Kemudian ketika para penulis dari bangsa Latin ditanya, termasuk tokoh macam apa Muhammad itu? Menapa ia begitu sukses dalam waktu yang sangat singkat? Mereka hanya menjawab : Beliau adalah seorang tukang sihir yang telah menghancurkan gereja-gereja di Afrika dengan ilmu sihirnya. Dan kesuksesannya adalah karena ajaran yang disebarkannya melalui free sex.”[3]

Sikap Orientalis Terhadap al-Qur’an

 

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا

Dan orang-orang kafir berkata (al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakannya (Muhammad saw.) dan dia dibantu oleh kaum yang lain. Maka sungguh mereka telah berbuat kezaliman dan dusta yang besar.” (Al-Furqan : 4)

 

Ayat ini merupakan gambaran terhadap pengingkaran yang dilakukan oleh kaum kuffar terhadap kenabian Nabi saw. Dan pengingkarannya terhadap kebenaran al-Qur’an. Dari situ dengan sendiri mereka mengingkari kemukjizatan al-Qur’an. Salah satu penyebab pengingkaran tersebut adalah bahwa al-Qur’an mencela prinsip dasar yang dipegang dalam ajaran Kristen. Penolakan al-Qur’an terhadap penyaliban nabi Isa as. dan trinitas sangat mengganggu dogma Kristen.

Sebagai langkah untuk menolak al-Qur’an, para orientalis saling bahu membahu dalam mengkritisi al-Qur’an. Salah satunya melalui Arthur Jeffrey bersama Bergstrasser dan Pretzl untuk membuat al-Qur’an edisi kritis. Sebagai langkah awal mereka mengumpulkan manuskrip, kamus, buku-buku tafsir, hadits, qiraah. Meskipun pada akhirnya proyek ini terhenti disebabkan perang dunia ke 2 yang menghancurkan Jerman.

Usaha para orientalis untuk menyerang al-Qur’an akhirnya berhasil menjebol pemikiran sejumlah pemikir dari kalangan Muslim. Salah satunya lewat Mohammed Arkoun, seorang cendikiawan yang namanya sangat terkenal di kalangan kaum Islam Liberal. Ia berpendapat bahwa sejarah al-Qur’an sehingga menjadi “kitab suci” dan “otentik” perlu dilacak kembali. Ia menawarkan dekonstruksi dan historisitas sebagai sebuah strategi untuk menggerogoti sumber-sumber Muslim tradisional yang mensucikan “kitab suci”. Ia juga memuji langkah-langkah yang dibuat para Orientalis sebagai sebuah kemajuan terhadap perkembangan pemikiran dan studi keislaman.[4]

Dengan menggunakan dekonstruksi dan historisitas , maka menurut Arkoun, kodifikasi al-Qur’an menjadi mushaf Utsmani adalah angan-angan sosial tradisionalis dan modernis. Ia juga menyayangkan sikap kaum muslimin yang mengabaikan kritik-kritik filsafat tentang teks suci seperti yang pernah dilakukan pada Perjanjian Lama dan Baru. Ia juga menyalahkan metodologi para ulama dan fuqaha yang “mengontrol” kebenaran wahyu dengan menggunakan analisa gramar dan yang berhubungan dengan bahasa kepada teks.[5] Tentu saja pemikiran Arkoun ini perlu mendapat perhatian serius. al-Qur’an berbeda dengan Perjanjian Lama dan Baru. Salah satu kemukjizatan al-Qur’an adalah mampu menggambarkan fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian di masa mendatang. Banyak ayat al-Qur’an yang berisi tentang ilmu pengetahuan yang baru bisa dibuktikan kebenaran ilmiahnya pada akhir-akhir abad ini.

Sebagai gambaran umum, usaha untuk menerjemahkan al-Qur’an ini memiliki beberapa tujuan. Diantaranya :

  1. Untuk menyerang Islam. Setelah mereka menyadari bahwa Islam tidak akan bisa dikalahkan dengan kekuatan militer, maka mereka bersepakat untuk menhancurkan Islam melalui dalil rasional untuk merusak pemikiran kaum muslimin. Salah satunya dalam bentuk penerjemahan al-Qur’an ke berbagai bahasa dengan menggunakan kaidah dari mereka sendiri.
  2. Untuk menjelekkan al-Qur’an. Hal ini dilakukan supaya Islam tidak berkembang di Eropa. Namun usaha ini nampaknya menemui kegagalan dengan makin banyaknya orang Eropa yang memeluk agama Islam pada akhir-akhir ini dimana Islam sebagai agama yang mengalami pertumbuhan tercepat dibanding agama-agama lain.

Strategi Kaum Orientalis untuk Melemahkan Kaum Muslimin

Tak diragukan lagi bahwa kebencian mereka  serta rasa takut akan kebangkitan kaum muslimin menjadikan mereka waspada dan menyiapkan strategi untuk terus memadamkan kaum muslimin. Beberapa strategi yang penulis ungkapkan mungkin tidak mencakup seluruhnya, namun setidaknya kita mengenal serta mengetahui langkah-langkah yang mereka jalankan.

Pendirian lembaga-lembaga akademi untuk mengkaji semua yang berkenaan dengan orientalisme. Pada tahun 1914 M, Curzon menyatakan dalam sebuah muktamar tentang kajian-kajian orientalisme : “Sesungguhnya pengkajian dan penyelidikan orientalisme bukanlah merupakan kenikmatan berpikir. Akan tetapi lebih dari itu merupakan tanggung jawab imperium yang sangat agung. Karena itu usaha mewujudkan sekolah kejuruan tentang orientalisme di Universitas London merupakan bagian yang harus dimiliki oleh Imperium (Part of Necessary Furniture of The Empire). Jadi, keikutsertaan dalam membangun dan mewujudkan sekolah tadi merupakan kewajiban dan tugas setiap warganegara terhadap Imperium”.[6] Pemberian beasiswa-beasiswa pendidikan ke Barat dalam rangka “mengkaji Islam” merupakan salah satu bentuk supaya regenerasi dan perkembangan pemikiran ini dapat tersebar. Dan cara ini memang sukar untuk dimengerti kaum awam yang pada awalnya memiliki keinginan untuk mendalami Islam.

Memecah belah antar organisasi. Dengan mengangkat isu-isu masalah khilafiyah yang menjadi perbedaan antar organisasi. Cara ini cukup ampuh menyibukkan mereka untuk saling menghujat dan menyalahkan yang pada akhirnya memecah belah umat itu sendiri.

Strategi lain dalam bentuk menghilangkan pengaruh para tokoh muslim. Sebisa mungkin suara mereka tidak terdengar dan menghujat mereka ketika berbuat sesuatu yang menyalahi hak asasi. Para tokoh ini tidak diberi kesempatan untuk menentukan sikap terhadap berbagai permasalahan umat. Ruang lingkup merekapun dibatasi hanya di masjid saja.

Mengangkat serta melestarikan tokoh-tokoh yang sependapat dengan mereka. Di Indonesia sendiri, munculnya tokoh-tokoh muda yang mengatasnamakan “Cendekiawan Muslim” merupakan salah satu bentuk kesuksesan mereka dalam melakukan regenerasi serta penyebaran paham mereka. Salah satu yang dapat kita cermati adalah komentar Luthfi Assyaukani (salah seorang pendiri Jaringan Islam Liberal) ketika ia mengomentari tentang keotentikan Mushaf Utsmani. Isi komentarnya sebagai berikut (dapat dilihat di situs www.Islamlib.com) :

“Sebagian besar kaum muslim meyakini bahwa al-Qur’an dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa al-Qur’an yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari 1400 tahun silam. Keyakinan semacam ini lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal ad-din) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan al-Qur’an sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik dan rekayasa”.

Telah kita lihat bahwa kaum orientalis pada hakikatnya bukanlah orang-orang yang tepat dan patut untuk mengkaji ilmu-ilmu Islam dengan kajian ilmiah. Karena mereka kehilangan sifat pokok objektifitas ilmiah, yaitu sifat terbuka dan kejujuran intelektual. Bahkan dengan terang-terangan mereka justru telah mengambil sikap yang pernah dihadapi Islam sebelumnya. Yaitu sikap memusuhi Islam, bersikeras dan fanatik dalam menentangnya, membenci al-Qur’an, dengki terhadap Rasulullah saw, serta berbuat tipudaya dengan berbagai cara.

Tidak mungkin seseorang itu dikatakan objektif dalam penelitian ilmiah yang dilakukannya sedang ia memiliki perasaan benci, permusuhan, dan kedengkian yang menumpuk dalam hatinya. Tidak mungkin seseorang meneliti serta mengkaji Islam, sedang ia itu pembantu kolonial, kaki tangan Barat untuk menyerang Islam dan kaum muslimin serta menjadi anggota kaum missionaris.

Mempelajari siasat dari kaum orientalis untuk memecah belah umat Islam ini harus mendapat perhatian serius dari kaum muslimin. Sekarang tinggal bagaimana respon kaum muslimin untuk membendung serta memberantasnya. Persatuan merupakan satu-satunya solusi di tengah maraknya isu perpecahan yang terus menerus dihembuskan untuk melemahkan aqidah dan persatuan umat Islam. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam setiap insan memiliki pandangan dan sikap yang berbeda dalam menghadapi persoalan. Tinggal bagaimana menyatukan perbedaan itu menjadi sebuah ukhuwah yang kuat tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada. Dan itu merupakan tugas para ulama dan umara untuk mewujudkan persatuan kaum muslimin.

Allah swt. berfirman dalam surat Muhammad ayat 7 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, maka Ia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Wallahu a’lam

[1] Dr. Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Jakarta, Pustaka AlKautsar), hal 17

[2] Ibid, hal.18

[3] Ibid, hal 52.

[4] Adnin Armas, al-Qur’an dan Orientalis.

[5] Ibid.

[6] Dr. Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Jakarta, Pustaka AlKautsar), hal 81

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *