Pemuda adalah tonggak harapan umat, bangsa dan peradaban. Mereka sudah dipersiapkan sebagai suksesor untuk kedepannya. Di pundaknya lah semua tanggung jawab dibebankan. Akan tetapi pada era sekarang ini banyak para pemuda yang tidak menyadari akan hal itu, entah mereka lupa akan hal itu atau sengaja berlepas diri akan tanggung jawab tersebut.

Jika kita sedikit menengok ke belakang dari kesejarahan Indonesia maka kita akan sedikit mendapati peran pemuda yang sangat bertolak belakang dengan keadaan pemuda sekarang ini. Pada tahun 1924 berdirilah sebuah organisasi kepemudaan yang diinisiasi oleh K.H Agus Salim, organisasi tersebut bernama Jong Islamieten Bond (JIB).

Empat tahun berselang terjadilah sebuah peristiwa yang sangat monumental dan biasa kita peringati pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya, peristiwa tersebut diinisiasi oleh kelompok pemuda-pemuda yang berada di Indonesia, mulai dari Jong Celebes, Jong Java, Jong Borneo serta Jong Islamieten Bond. Peristiwa tersebut biasa kita sebut sebagai “Sumpah Pemuda”, output yang dihasilkan dari peristiwa tersebut adalah sebuah lagu kebangsaan bagi bangsa Indonesia dan masih banyak yang lainnya.

Begitu juga ketika kaum muda mendesak Soekarno dan Hatta untuk menuntut kemerdekaan dari Jepang, ketika kaum muda melihat Jepang kalah kepada tentara sekutu saat perang dunia kedua. Suatu kejadian ketika kaum muda menculik kedua proklamator tersebut dan mereka berdua dibawa ke satu daerah yang bernama Rengasdengklok, pada saat itulah kedua proklamator dipaksa untuk menuntut dan meminta kemerdekaan dari Jepang. Meskipun pada awalnya kedua proklamator menolak usulan dari kaum muda tersebut, sebab Jepang sudah berjanji kepada bangsa Indonesia bahwasannya pada suatu hari nanti akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.

Kaum muda beranggapan bahwa tragedi yang sedang dialami oleh Jepang merupakan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya, sebab janji dari Jepang belum jelas kapan maka oleh karena itu kaum muda mendesak kedua proklamator tersebut untuk sesegera mungkin untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Berkaca dari penggalan kisah tersebut seharusnya kita bisa menyimpulkan bahwasannya pemuda mempunyai peran sentral bagi sebuah peradaban, lebih khususnya bagi bangsa Indonesia. Masih banyak lagi kisah yang menerangkan bahwasannya pemuda mempunyai sebuah kedudukan yang sangat strategis bagi kelangsungan suatu peradaban, seperti halnya kata Soekarno “Beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia”

Molornya Batas Kedewasaan

Jika kita berpijak kepada sebuah terma yang ditawarkan oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF)  pada tahun 2011 yang lalu maka seseorang yang disebut sebagai remaja adalah jika ada seseorang yang berusia di antara 10-19 tahun. Sedangkan jika kita berpegang kepada terma yang ditawarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah jika seseorang berada pada usia 15-24 tahun maka mereka disebut sebagai seorang remaja.

Dimundurkannya standarisasi usia kedewasaan seorang anak mengakibatkan kacaunya sistem yang berlaku di masyarakat, dalam worldview Islam seorang anak dikatakan dewasa apabila dia telah sampai akil baligh. Sedang proses akil  baligh biasanya terjadi ketika seorang anak berusia 10-15 tahun, jika kita berpegang kepada standarisasi dewasa dari UNICEF maka ada jeda sepuluh tahun bagi anak tersebut untuk menginjak fase dewasa dalam hidupnya. Jeda sepuluh tahun tersebut biasa dikatakan sebagai fase remaja atau fase pencarian jati diri, tidak menutup kemungkinan pada fase inilah seorang anak melakukan segala macam perbuatan yang ditimbulkan dari rasa penasarannya terhadap perbuatan tersebut.

Diubahnya standarisasi batas kedewasaan seseorang tidak sedikit menimbulkan sebuah problem di masyarakat. Sebut saja dekadensi moral yang saat ini sedang menyerang sebagian besar remaja. Seharusnya pada fase ini seorang anak yang telah melewati fase akil baligh sudah bertindak atau berperilaku layaknya seseorang yang sudah matang akalnya, bahkan tidak sedikit dari remaja tersebut yang masih berperilaku kekanak-kanakan. Benar sekali jika ada sebuah pernyataan bahwasannya dewasa adalah sebuah pilihan, dan tua adalah sebuah keniscayaan.

Salah satu ciri dari seseorang yang belum bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa adalah belum tertanamnya rasa tanggung jawab dalam dirinya. Bahkan sebagian remaja sangat membenci apa itu sebuah tanggung jawab, sebagaimana dikutip James E. Gardner (1992:41) dalam Memahami Gejolak Masa Remaja tentang ucapan seorang remaja di Amerika :

Inilah kata yang paling kubenci – tanggung jawab. Aku selalu harus bertanggung jawab terhadap diriku sendiri, terhadap orang lain, atau terhadap sesuatu …. Persetan dengan tanggung jawab. Aku tidak menginginkannya. Taik dengan tanggung jawab!

Tak sekedar hilangnya rasa tanggung jawab di kalangan remaja saat ini, masih banyak lagi tindak kriminalitas yang dilakukan oleh remaja, serta kasus kriminalitas pun banyak yang melibatkan remaja mulai dari free sex, narkoba, pencurian, penganiayaan, tawuran dan bullying kepada rekannya sendiri.

Tak sedikit pula orang yang mencoba untuk mengkritisi akan terma yang disodorkan oleh UNICEF dan PBB tersebut. Mereka beranggapan bahwa terma yang disodorkan oleh UNICEF dan PBB tersebut menjadikan seorang anak mengalami kemunduran dalam memasuki fase kedewasaan. Perubahan yang signifikan dialami oleh seorang anak baik itu dari sisi fisik maupun psikis sejatinya terjadi ketika seorang anak melewati fase akil baligh. Seharusnya ketika seorang anak sudah melewati fase akil baligh sudah bisa dikatakan mereka menjadi seorang pemuda yang berpikiran dewasa, sebab seorang anak yang sudah melewati fase tersebut sudah sempurna fungsi akalnya dan salah satu syarat bagi seseorang terbebani oleh kewajiban adalah akalnya telah berfungsi secara sempurna. 

Pemuda di dalam Islam

Ada banyak penyebab dari dekadensi moral pada remaja sekarang ini, salah satunya adalah minimnya pemahaman agama pada remaja. Meskipun juga ada sebagian remaja yang sudah mengenal dan memahami agama akan tetapi tingkah laku mereka tidak mencerminkan akan hal tersebut. Pendapat ini bukan tanpa alasan sebab ada sebuah survei yang menyebutkan bahwa tindak kriminalitas yang melibatkan remaja disebabkan oleh dua hal, kurangnya pemahaman agama di kalangan remaja serta faktor ekonomi yang melatarbelakangi hal tersebut. Persoalan kurangnya pemahaman agama merupakan faktor pokok dari itu semua, serta faktor lainnya hanya sebagai pelengkap dari faktor pokok tersebut.

Agama merupakan faktor yang sangat substansial dalam pembentukan kepribadian seorang manusia, meskipun ada beberapa pihak yang berpendapat bahwasanya tidak ada sangkut-pautnya agama terhadap hal tersebut. Sigmund Freud beranggapan bahwa sebuah tindakan kejahatan itu bersumber dari pikiran yang patologis. Bahkan, Goddard menyatakan bahwa tindak kejahatan sangat terkait dengan kelemahan psikologis, seperti problem emosional dan intelektual (Brown dan Campbell, 2010).

Mereka beranggapan semacam itu tidak lepas dari sudut pandang mereka tentang agama, mereka beranggapan bahwasanya agama bukanlah segalanya. Serta segala macam perbuatan manusia tidak ada sangkut pautnya terhadap agama, mereka berusaha untuk berusaha merasionalkan setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia atau bahasa lainnya adalah mereka berusaha untuk mengenepikan agama dari perannya (sekulerisasi).

Pendapat tersebut berbanding terbalik dengan konsep Islam dalam hal menyikapi sebuah perkara, sebuah perkara di dalam Islam baik itu perbuatan yang besar ataupun kecil akan dipertanggung jawabkan. Meskipun demikian kita tidak bisa menutup mata akan adanya hal tersebut, akan tetapi kita tidak sepatutnya untuk mengenepikan peran agama terhadap hal tersebut. Sebagaimana telah disebutkan tadi bahwa agama merupakan faktor yang sangat substansial, serta faktor yang lainnya hanya sebagai pelengkap dari faktor yang substansial tersebut.

Dalam hal ini Islam memiliki konsep tersendiri terhadap persoalan ini, islam membagi kehidupan seorang manusia menjadi berbagai fase. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ar-Rum ayat 54 :

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu dari keadaan lemah tersebut menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu kembali lemah dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Ibn Katsir di dalam Tafsirnya saat menjelaskan tentang ayat ini menulis, “Kemudian ia keluar dari rahim ibunya, lemah, kurus, dan tak berdaya. Kemudian ia tumbuh sedikit demi sedikit sampai ia menjadi seorang anak, lalu ia mencapai usia baligh, dan setelahnya menjadi seorang pemuda, yang merupakan kekuatan setelah kelemahan. Kemudian ia mulai menjadi tua, mencapai usia paruh baya, lantas menjadi tua dan uzur, kelemahan setelah kekuatan, maka ia kehilangan ketetapan hati, tenaga untuk bergerak, serta kemampuan berperang, rambutnya menjadi kelabu dan sifat-sifatnya, zahir dan batin, mulai berubah.

Seperti halnya sebuah kisah yang dialami oleh Ibn Umar ketika terjadi perang Uhud dan Khandaq, ketika perang Uhud Ibn Umar masih berusia empat belas tahun dan mempunyai azam yang kuat untuk turut serta dalam peperangan. Akan tetapi Nabi SAW tidak mengizinkan Ibn Umar turut serta dalam peperangan. Tatkala terjadi peristiwa perang Khandaq dan Ibn Umar ketika itu usianya sudah lebih dari lima belas tahun, Ibn Umar kembali mengutarakan keinginannya untuk turut serta dalam peperangan. Pada peristiwa kali ini Nabi SAW mengizinkan Ibn Umar untuk turut serta dalam perang kali ini … (HR. Bukhari)

Begitu juga kisah Usamah ibn Zaid ibn Haritsah yang ditunjuk Nabi SAW sebagai panglima perang, pada kala itu usianya belum menginjak dua puluh tahun. Penunjukan ini tidak serta merta tanpa pertentangan, para kibar sahabat kali ini mengkritik kebijakan Nabi SAW. Mereka berasumsi bahwasannya Usamah masih sangat muda dan belum pernah merasakan peperangan sebelumnya. Akan tetapi Nabi tidak bergeming dan tetap teguh memegang keputusannya tersebut, meskipun kafilah yang dipimpin oleh Usamah ini tidak jadi diberangkatkan ke medan pertempuran hingga Nabi wafat. Meskipun begitu pada masa kepemimpinan khalifah Abu Bakar kafilah ini akhirnya diberangkatkan juga ke medan pertempuran. Dan akhirnya kafilah ini mampu merebut kemenangan yang gilang-gemilang dari musuhnya.

Pada fase kali ini juga seorang manusia harus memperhatikan batas-batas yang ada, sebab setelah fase akil baligh sampai seseorang itu berusia empat puluh tahun merupakan masa-masa yang sangat produktif bagi seorang manusia. Secara eksplisit usia empat puluh tahun disinggung Allah SWT secara langsung di dalam Al-Quran, sebagaimana firmannya dalam surah Al-Ahqaf ayat 15:

“ … Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun … ”

Ibn Abbas pernah mengatakan tentang usia seorang yang telah menginjak usia empat puluh tahun “Apabila seseorang telah sampai pada usia empat puluh tahun dan amalan kemaksiatannya lebih banyak dari amalan kebaikannya maka hendaklah dia bersiap-siap menyiapkan tempat duduknya di Neraka”

Sebuah kebiasaan atau keseharian seseorang yang telah menginjak usia empat puluh tahun merupakan buah dari kebiasaannya di waktu muda, baik itu kebiasaan dalam hal kebaikan atau bahkan kebiasaan dalam hal keburukan. Karena pada fase inilah merupakan penuaian dari benih yang telah kita semai pada waktu muda kita. Akan tetapi siapa bisa memberikan jaminan bagi kita untuk sampai pada fase usia tersebut, bukankah Allah SWT telah memperingatkan kita dalam firmanNya yang terdapat dalam surah Luqman ayat 34 :

“ … Dan kita tidak mengetahui apa yang akan kita lakukan besok, serta kita juga tidak mengetahui di belahan bumi sebelah mana kita akan dimatikan”

Jika sudah demikian maka seharusnya kita selalu mempersiapkan perjumpaan kita dengan sang Ilahi Rabbi dengan sebaik-baik persiapan. Tidak ada jaminan pula mati menunggu kita tua, dalam keadaan siap atau tidak siap serta dalam ketakwaan atau kemaksiatan.

Fenomena pemuda zaman Nabi dahulu sedang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat  dengan fenomena pemuda saat ini, banyak pemuda sekarang ini yang sudah menyimpang dari batas-batas agama. Bahkan ada sebuah adagium yang saat ini sedang memenuhi pikiran pemuda “Muda foya-foya, tua kaya-raya serta mati masuk Surga”. Sebuah Adagium yang sangat menyesatkan dan mengakibat kan seorang pemuda menghabiskan masa mudanya dengan tanpa mengenal batas-batas agama mereka serta melakukan perbuatan dengan sesuka hati mereka, sehingga penyesalan akan menjumpai dirinya pada usia tua mereka.

Sedang pemuda kita zaman sekarang ini sibuk untuk mengumpulkan barang-barang branded untuk dikoleksi, sibuk menghabiskan masa mudanya dengan berhura-hura tanpa jeda, menyibukan diri mereka dengan perbuatan-perbuatan yang kurang berfaedah bagi dirinya. Tidak sedikit pula pemuda kita saat ini kehilangan makna akan dirinya serta sudah tidak mempunyai visi serta misi dalam hidupnya. Sebuah ironi yang sangat menyesakkan dada serta mampu untuk membuat air mata jatuh jika melihat keadaan pemuda kita saat ini.

Bukankah seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Rabbnya lebih dicintai? serta bukankah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan akan mendapatkan sebuah naungan dari Allah SWT pada hari perhitungan kelak?

Perlu kita renungkan juga bahwasannya ada beberapa hadits yang menerangkan bahwa di akhirat kelak akan ditanya perihal masa muda kita disibukkan untuk kegiatan apa, serta dalam riwayat lain dijelaskan bahwa perbaguslah masa mudamu sebelum masa tuamu.

Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. at-Tirmidzi).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *