Buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press ini pada tahun 1992 sudah mencapai sembilan kali cetak ulang, untuk cetakan yang pertama terjadi pada tahun 1987. Buku ini mempunyai judul asli “Ya Bintii Wa Ya ibni” ditulis oleh seorang ulama kontemporer kelahiran Suriah pada tahun 1909 dan wafat pada 18 Juni 1999 di Jeddah, beliau adalah Syaikh Ali At-Tanthowi.

Buku ini secara garis besar merupakan sebuah nasehat yang sangat menohok kepada pemuda dan pemudi pada zaman tersebut, akan tetapi esensi dari buku ini sangatlah relevan jika kita tarik hingga saat ini. Buku ini terbagi menjadi tiga bab diantaranya : Pendahuluan, Pesan kepada putriku dan yang terakhir ialah Pesan kepada putraku.

Pada pendahuluan buku ini diterangkan bahwa syaikh Ali At-Tanthowi sudah enam puluh tahun berkecimpung  dalam dunia dakwah, baik itu dakwah melalui lisan ataupun tulisan. Terkhusus untuk bab wahai putriku yang beliau tulis pada tiga puluh tahun yang lalu atau lebih tepatnya pada tahun 1940-an dari dicetaknya buku ini sangat banyak menarik simpati khalayak ramai.

Masih dalam pendahuluan buku ini beliau menjelaskan bahwasannya umat Islam diserang melalui dua jalur, yaitu jalur syahwat dan jalur syubhat (yang meragukan). Penyakit syubhat diakui oleh syaikh Ali lebih besar dampaknya daripada jalur syahwat, penyakit ini bergerak melalui jalur lambat dan tidak semua orang tahan untuk menerimanya. Lebih khususnya kepada pemuda atau remaja yang di bangkitkan syahwatnya melalui syubhat, maka besar  kemungkinan pemuda tersebut akan menyambut dan menerimanya tanpa pandang bulu. Sedangkan jalur syahwat dampaknya langsung cepat menjalar dan tingkatannya sedikit terbatas dan merepotkan. Akan tetapi penyakit ini tidak sampai batas memusnahkan dan mematikan.

Pada bab wahai putriku ada  satu paragraf yang Syaikh Ali mengingatkan kita tentang pentingnya menegakan akhlak, menjunjung budi pekerti yang mulia, memberantas segala macam kerusakan jiwa dan mengendalikan hawa nafsu syahwat untuk melawan dan memberantas kerusakan moral. Banyak sekali pesan yang  disampaikan oleh Syaikh Ali kepada para muslimah, mulai dari penekanan untuk selalu menjaga dan menutup aurat mereka, menjaga pola pergaulan dengan lawan jenis hingga yang paling relevan jika kita kaitkan dengan zaman sekarang ini ialah proses penganjuran emansipasi atau biasa disebut sebagai gender equality.

Menurut penulis proses emansipasi atau gender equalitymerupakan pembohongan besar, serta di lain sisi hanya penulis berpendapat bahwa emansipasi merupakan kedok untuk mencapai kepuasan nafsu belaka. Para penganjur paham emansipasi ini beranggapan bahwa kaum pria mempunyai kenikmatan lebih dari kaum hawa, maka oleh karena itu mereka menuntut juga untuk bisa merasakan kenikmatan tersebut. Mereka menyembunyikan semua itu dengan lebih mengedepankan tentang “tuntutan zaman, seni dan budaya, kehidupan kampus serta alam kemahasiswaan” akan tetapi semua yang mereka gembar-gemborkan itu ibarat bedug yang kosong.

Penulis beranggapan bahwa jika semua itu sudah menyebar hampir ke seluruh pelosok negeri, bahkan beberapa negeri Islam pun sudah tergelincir dalam pusaran tersebut. “Jika memang demikian maka kita gagal, dan saya kira kita tidak akan berhasil. tahukah engkau apa penyebabnya? Sebabnya adalah, karena kita sampai hari belum menemukan pintu ke arah perbaikan dan kita tidak tahu jalannya”.

Bab terakhir  dari buku ini berisi nasihat kepada kaum Adam, sejatinya nasihat kepada kaum Adam ini didasarkan kepada sebuah surat yang berisi pertanyaan yang masuk ke Syaikh Ali. Surat tersebut diterima oleh Syaikh Ali pada tahun 1955, dan pada tahun yang sama itu pula terbitlah tulisan beliau ini.

Tak jauh berbeda dengan nasihat penulis kepada kaum hawa, pada bab ini pula penulis lebih menekankan untuk menjaga syahwat. Akan tetapi nasihat penulis kali ini kepada kaum Adam tidak sepanjang nasihat penulis kepada kaum hawa. Isi surat yang masuk kepada Syaikh Ali banyak pertanyaan yang berupa cara untuk menanggulangi godaan syahwat kepada kaum Adam, khususnya kepada para pemuda dan remaja. Oleh karena itu penulis memberikan empat cara untuk menanggulangi gejolak syahwat, tiga cara diawal tidak diperkenankan oleh syariat dan cara yang terakhir diperkenankan oleh syariat. Keempat cara tersebut ialah :

1. Menuruti insting dan bayangan impian nafsu syahwat. Selalu mengisi pikiran dengan gambar-gambar porno, apakah itu melalui film, cerita jorok dan gambar yang tak senonoh.
2. Melakukan masturbasi (Istimna) Masturbasi ini apabila dilakukan secara berlebihan dapat mengganggu keseimbangan jiwa, timbul perasaan sedih, tubuh lemah, mudah sakit, murung dsb. Bahwa yang demikian ini mereka mati sebelum mati
3. Ikut menimba dari sumur dosa dan merasakan kelezatan dari yang haram, menempuh jalan sesat, menjadi langganan rumah-rumah pelacuran, merusak kesehatan dan merobek-robek baju agamanya.
4. Nikah atau kawin

Buku ini menggunakan tata bahasa yang sangat santai, oleh karena itu buku ini bisa dinikmati oleh semua golongan. Durasi yang dihabiskan untuk mampu menghabiskan buku ini hanya dengan sekali duduk saja, sebab buku ini sangatlah tipis dan hanya terdiri dari 43 halaman saja.

Ulasan dan uraian yang digunakan buku ini sangat singkat, ringkas, gamblang dan menarik. Dalam buku ini beliau berpesan kepada generasi muda umat Islam tentang apa yang seharusnya diperbuat dalam mewujudkan kepribadiannya sebagai seorang Muslim dan Muslimah yang sejati.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *