Di dalam buku How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yang terbit tahun 2018 yang lalu diterangkan bahwa suatu negara atau pemerintahan dikatakan sebagai penganut paham otoritarianisme apabila salah satu dari empat indikator yang mereka sebutkan tersebut terpenuhi : Satu, adanya penolakan atau setidaknya memiliki komitmen yang lemah terhadap aturan main yang demokratis. Dua, memberi toleransi atau bahkan menganjurkan kekerasan aparat ke rakyat sipil. Tiga, penolakan legitimasi lawan politik serta indikator yang terakhir ialah kesediaan penguasa untuk membatasi kebebasan sipil serta kebebasan media atau pers.

Jika kita tarik kepada persoalan kenegaraan saat  ini, maka sejatinya Indonesia untuk kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode yang kedua ini keempat indikator tersebut sudah terpenuhi, sebagaimana pernyataan Wijayanto selaku Direktur Center for media and Democracy LP3ES, lembaga yang rutin mengeluarkan kajian sosial sejak Orde Baru. Beliau tidak serta merta mengeluarkan statement tersebut tanpa adanya landasan filosofis yang melatarbelakanginya, sebagaimana dikutip tirto.id dalam sebuah artikel yang dipublish pada 17 Juni 2020 yang lalu.

Gaya kepemimpinan otoriter sejatinya memiliki peranan dan pengaruh yang sangat signifikan kepada bawahannya atau kepada siapa saja yang dipimpinnya. Daniel Goleman dalam sebuah penelitiannya pernah mengemukakan sebuah teori bahwasannya seorang pemimpin yang cerdas dalam hal emosi mampu untuk menginspirasi, membangkitkan komitmen, motivasi, dan optimisme bawahan dalam melaksanakan pekerjaan dan menumbuhkan atmosfir kerja sama, menumbuhkan gairah serta dapat mempengaruhi perilaku bawahan berdasarkan nilai-nilai yang dimiliki untuk mencapai tujuan organisasi.

Sejalan dengan itu White dan Lippit H mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang otokratis seorang pemimpin menentukan sendiri policy dan dalam rencana untuk kelompoknya, membuat keputusan-keputusan sendiri namun yang mendapatkan tanggung jawab adalah keseluruhan. Bawahan harus patuh dan mengerti perintahnya, jadi pemimpin tersebut menentukan atau mendiktekan aktivitas dari anggotanya. Pemimpin otokratis biasanya merasa bahwa mereka mengetahui apa yang mereka inginkan dan cenderung mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam bentuk perintah-perintah langsung kepada bawahan. Dalam kepemimpinan otokrasi biasanya terjadi adanya keketatan dalam pengawasan, sehingga sukar bagi bawahan dalam memuaskan kebutuhan egoistisnya.

Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan otokratis adalah sebagai berikut :

1. Wewenang mutlak terpusat kepada pemimpin
2. Keputusan selalu dibuat oleh pemimpin
3. Kebijakan selalu dibuat oleh pemimpin
4. komunikasi berlangsung satu arah dari atasan kepada bawahan
5. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahannya dilakukan secara ketat
6. Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran dan pertimbangan atau pendapat
7. Lebih banyak kritik daripada pujian, menuntut prestasi dan kesetiaan sempurna dari bawahan tanpa syarat, dan cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman.

Secara terminologi otoriter dan otokrasi memiliki makna yang saling bersinggungan diantara keduanya, kedua kata ini merupakan kata serapan dari bahasa inggris “Authoritarian dan Autocracy”. Jika kita telisik lebih dalam tentang kedua makna ini dalam kamus Oxford Learner’s Dictionaries versi daring, kita akan menjumpai makna dari keduanya yang saling bersinggungan. Sisi yang saling bersinggungan dari keduanya terletak pada makna “Seseorang yang memiliki superioritas atau ketetapan dalam menetapkan suatu kebijakan secara penuh terhadap suatu perkara”.

Sebenarnya ada satu istilah lagi yang menerangkan akan suprerioritas seseorang dalam memegang suatu kebijakan secara penuh, akan tetapi kata tersebut lebih berkonotasi ke arah yang negatif. Kata tersebut adalah agitator (Versi KBBI), kata tersebut juga merupakan kata serapan dari bahasa Inggris “Agitator” masih dalam kamus yang sama dijelaskan bahwa kata tersebut memiliki makna “Seseorang yang mencoba untuk mengerahkan massa dalam suatu peristiwa kudeta atau revolusi”.

Gaya kepemimpinan secara otoriter atau otokrasi sejatinya memiliki peranan yang sangat sentral terhadap kinerja orang yang berada di sekitar orang tersebut. Disadari atau tidak disadari kepemimpinan semacam ini lambat laun akan diteruskan oleh beberapa generasi setelahnya, mereka berasumsi bahwa kepemimpinan semacam ini jika dilihat secara kasat mata menimbulkan kebermanfaatan bagi sekitarnya. Akan tetapi jika kita kaji lebih dalam akan kepemimpinan yang semacam ini mampu untuk mempengaruhi psikis dan psikologis dari seseorang berada di sekitarnya.

Menurut Stephen R. Covey dalam buku Principle Centered Leadership mengetengahkan sebuah masalah kronis yang cukup representatif menggambarkan kondisi kehidupan saat ini, termasuk kondisi kehidupan saat ini di Indonesia. Masalah kronis tersebut antara lain : ketiadaan kebersamaan nilai dan visi, lemahnya keterpaduan antara visi dan sistem, gaya manajemen yang tidak pas dengan visi serta adanya krisis kepercayaan. Kesemuanya ini merupakan masalah yang kronis, untuk mengatasi permasalahan tersebut salah satu caranya adalah seorang pemimpin harus mempunyai pola pikir serta perilaku yang baik sesuai dengan tuntutan tugasnya.

Untuk menjadi seorang pemimpin lebih ideal kiranya menggunakan atau menganut paham missionary (Pelindung) atau headmanship (Pengayom). Kepemimpinan yang berpaham missionary menunjukan beberapa karakteristik, diantaranya : Selalu melakukan sebuah usaha yang reaktif dalam mencegah pertentangan dan menghindari konflik dengan pihak-pihak lain, memiliki kemampuan dan kemauan yang tinggi dalam menghormati, menghargai orang lain dan mampu mengendalikan diri, mempunyai perhatian yang lebih besar terhadap orang luar atau masyarakat yang memerlukannya atau dengan kata lain kepemimpinan semacam ini menuntut orang yang berada di sekitarnya untuk lebih mengedepankan pengabdian dan pelayanan serta bukan yang sebaliknya.

Sedangkan, kepemimpinan yang menganut paham headmanship dapat ditandai dengan beberapa indikator, diantaranya : kepemimpinan ini dijalankan dengan kesediaan berkorban, pengabdian, melindungi dan selalu melibatkan diri dalam usaha memecahkan sebuah masalah. Kepemimpinan semacam ini memiliki kesediaan dan kesungguhan dalam mengayomi masyarakatnya, dengan berbuat segala yang layak dan diperlukan.

Pemimpin atau kepemimpinan merupakan sebuah panutan dalam hal negara atau organisasi, sehingga perubahan harus dimulai dari tingkat yang paling atas yaitu pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri. Maka dari itu, negara atau organisasi memerlukan seorang pemimpin yang reformis serta mampu menjadi motor penggerak yang mendorong perubahan organisasi. Sehingga mampu untuk meningkatkan kepuasan anggota dalam hal kontribusi serta meminimalisir rasa jenuh dan bosan dari anggota negara atau organisasi tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *