Oleh: Faishal Agha Farseen

Teringat tentang sosok Ibnu Khaldun yang merupakan seorang ekonom dengan pendekatan multi-disiplin ilmu. Pendekatan ekonominya dalam kajianya di “Muqaddimah/Prolegomena” salah satunya tentang ekonomi dan peran negara di dalam pasar, menunjukan adanya hubungan antara aktifitas ekonomi dan kepentingan suatu negara. Karena tak mungkin memisahkan antara ekonomi dengan masyarakat atau bahkan politik dan juga sebaliknya. Betapa pentingnya seorang ekonom untuk tetap memperhitungkan kepentingan negara, dan bagi seorang politisi tetap memperhitungkan ekonomi internasional; dalam hal ini misalnya perdagangan internasional, perusahaan multinasional, kebijakan mata uang, perpindahan capital antar negara, dan istitusi keuangan internasional.

400 tahun lebih setelah ibnu khaldun, ekonom lain bernama Adam Smith menggunakan islitah “merchantilisme” untuk mendeskripsikan beberapa teori dan kebijakan tentang bagaimana suatu negara harus mengintervensi pasar demi meningkatkan kemakmuran dan kekuataan relatif suatu negara. mercantilisme atau dalam istilah modern disebut juga nasionalisme ekonomi menekankan kepada kepentingan negara dalam hal ekonomi dan kekuatan negara berdasarkan kekuatan ekonomi. Karena pada akhirnya, kekuatan tawar suatu negara dalam hubungan internasional salah satunya dicerminkan dengan kemakmuran ekonomi.

hegemoni dunia silih berganti, mulai dari Belanda(1620-72), Inggris (1815-73), dan kini U.S. (1945-..) masih menguasai tatanan dunia baru. Semua pemegang hegemon dunia ini salah satunya yaitu menguasai dan mengontrol ekonomi dunia. Dan pada tahun 2017 keseimbangan tatanan dunia guyah ketika seorang geostrategis india, brahma chellaney menyatakan bahwa China memiliki “desain kolonial baru” dengan menjerat negara lain dengan jebakan hutang (Debt Trap Diplomacy) yang kemudian secara tidak langsung mengancam kedaulatan negara negara tersebut, baik secara ekonomi ataupun politis. si sisi lain, 30an negara mendukung proposal china ini. Media, ilmuwan, dan terutama pemerintah barat beramai ramai membahas dan mengkaji debt trap diplomacy ini. lalu, memangnya merchantilisme-autoriter ala China mampu menyaingi hegemoni US dan mengancam tatanan internasional yang liberal?

-sebuah negara bertirai bambu dan hegemoni dunia-
tentu kita ingat kejayaan ekonomi china mulai dari zaman dinasti shi huangdi sang pemersatu china, zaman 3 warring state, sampai china era Hu jintao dimana jalur sutra terus dipergunakan dan diperbaharui. Bahkan raja raja indonesia sejak zaman Srivijaya giat melakukan perdagangan dengan china, yang ditunjukan oleh peninggalan keramik keramik China di palembang dan jambi. Bahkan ada pendapat bahwa salah satu faktor keruntuhan majapahit adalah karena majunya kerajaan melayu di sumatra yang dibekingi oleh dinasti Tang saat itu. hubungan indonesia kuno dan dinasti china memang sudah sangat erat, bahkan konon laksamana cheng ho sering mondar mandir selat malaka dan sedikit banyak meriwayatkan sejarah kerajaan zaman dulu dan juga membawa pengaruh China yang cukup signifikan terutama di daerah barat indonesia. Sejak dahulu, selat malaka merupakan selat terpenting bagi china karena bagian barat china tidak memiliki pesisir, jadi kapal dagang yang menuju india dan eropa pasti melewati jalur ini. china modern zaman Hu Jintau-pun pernah galau karna “mallaccan dillema” yang ternyata dilirik juga oleh paman Sam.

xi jinping, presiden jagoan China kini, menginisiasi solusi alternatif dilema malacca dan bahkan bisa jadi melejitkan ekonomi china; One Belt One Road / Belt and Road Initiative. diumumkan pertama kali di 2013, jalur sutra moderen ini terutama membangun infrastruktur; jalan raya, pelabuhan, pembangkit listrik, pipa minyak dan gas yang mencangkup 73 negara sebagai “koridor ekonomi”. Proyek ini memiliki dua bagian; “silk road economic belt” yang menghubungkan China dan eropa via jalur darat, dan “21st century maritime silk road” jalur laut yang menghubungkan pesisir timur china dengan asia tenggara, asia tengah, afrika, dan lalu laut mediterania. Ternyata bahkan dalam zaman Internet yang sudah bisa memangkas jarak, geografi masih dianggap memiliki peran yang signifikan.

Di internal china sendiri, proyek ini sangat penting buat masalah internal china, rakyatnya overkapasitas dan butuh pekerjaan, pertumbuhan ekonomi domestiknya sudah meluber, pemerataan ekonomi yang timpang di bagian barat (xinjiang), produk komoditas utamanya sudah surpus dan butuh pasar alternatif, ditambah juga dengan adanya proyek ini ongkos ekspor bakal lebih hemat, terutama ke eropa. permintaan eksporpun akan melejit, karena adanya negara negara koridor ekonomi dan pelabuhan pelabuhan yang terhubung.

Nah, beberapa pelabuhan pelabuhan baru ini memang hanya sebagai tempat strategis untuk transit atau aktivitas ekonomi lain di saat damai, namun saat terjadi perang bisa digunakan sebagai penyalur logistik kapal perang maritim china. Ditambah lagi ini memungkinkan china untuk menghindari “harga politik” yang harus dibayar jika pelabuhan pelabuhan tersebut digunakan sebagai basis militer permanen sebagaimana yang dilakukan ala “gunboat diplomacy” amerika dan rusia. Di sisi lain, proyek Silk road economic belt memungkinkan pemerataan ekonomi yang sudah timpang di bagian barat china, xinjiang, dimana “separatis” uygur berada. semua ini harus segera dilakukan demi stabilitas politik yang dikuasai Partai Komunis china. mengembangkan proyek infrastruktur juga mampu memastikan penyerapan surplus bahan bahan konstruksi hasil produksi BUMN china, dan juga menekan ketegangan sosial dari PHK. di sisi lain, proyek ini bisa membuka jalan akses china ke sumber daya dan energi di negara lain demi memenuhi kebutuhan supplai energi dan bahan produksi pabrik pabrik china.

Dari sisi pola peminjaman, selain dari nilai investasi yang ditawarkan, pinjaman dan investasi china biasanya relatif mudah dicairkan jika dibanding dengan pinjaman dari institusi keuangan internasional atau perusahaan internasional. cangkupan negaranyapun bisa mencangkup negara negara yang biasanya dihindari investor, entah itu karena iklim investasi yang tidak kondusif, terlalu sulit, tidak aman, atau tidak layak. Proyek proyek yang dibiayai juga merupakan proyek proyek publik, seperti jalan raya, stadion, pusat budaya nasional, yang sangat menonjol dan memberikan keuntungan jangka pendek. Dan lagi, setiap “bantuan” investasi diumumkan ke publik oleh pemerintah China, yang sangat disimbolkan sebagai tanda “pertemanan” dengan negara tersebut. Investasi investasi inipun tidak membeda bedakan letak geografis atau kualitas pemerintahan negara peminjam. semua ini menunjukan bahwa investasi china itu didorong oleh kepentingan masterplan china itu sendiri (demand-driven), bukan karena ingin memenuhi kepentingan negara peminjam (supply-driven).

Kembali ke Abad 18 yang lalu, teoris geopolitis inggris Halford Mackinder berpendapat bahwa siapapun yang menguasai “pulau dunia eurasia” akan dapat mengontrol dunia. Inilah salah satu faktor dan teori pendukung ekspansi jerman ke eropa timur, lalu rusia yang menjadi perang dunia 1 dan 2. Di lain pihak, Amerika lebih mengutamakan teori abad 19 dari admiral Alfred Mahan, yang menekankan keuatan maritim dan area area sekeliling pulau dunia/”Rimland”. Boleh dibilang, dengan adanya Belt and Road Initiative, china cenderung menapaki jalur teori Mackinder, mengancam pengaruh rusia dan Inggris di jalur darat Euroasia dan jalur laut milik India.

Media media barat menyampaikan bahwa tujuan utama BRI adalah untuk membuat euroasia sebagai area ekonomi dan perdagangan untuk menyaingi Translantik yang didominasi Amerika. Padahal bisa jadi BRI ini hanyalah lanjutan dari investasi internal secara masif oleh china, hanya saja dengan skala yang lebih luas. China bukan hanya memiliki kapasitas dan finansial yang berlebih, tapi juga kemajuan teknologi yang ditunjukan oleh meningkatnya investasi dan pencapaianya dalam bidang sistem pakar, robotika, nanoteknologi, dan bioteknologi.

– Opsi China dan nyiyiran dengki tetangga –
Asia memiliki “balance of power”nya sendiri, India, Jepang, dan Vietnam tak ingin dominasi china di asia. Bagi mereka opsi baru china adalah sesuatu yang haram, dan kemudian mata mereka melihat gapaian tangan amerika adalah salah satu solusinya. Amerika tentu melihatnya sebagai ancaman hegemoni dan tatanan dunia yang sudah ia bangun semenjak PD II.

Aksi china menunjukan bahwa ngga perlu jadi bule kulit putih buat jadi kolonialis, katanya. Negara yang lebih kuat dapat menggunakan bantuan dan investasi untuk menarik negara yang lebih lemah dalam “penyesuaian” politik dan juga menggunakan ancaman sangsi untuk “penyesuaian” kepentingan. ketika digunakan oleh hegemon, strategi ini membuat mereka mampu mempertahankan kepemimpinan dalam pemerintahan global dan pasar dunia. lalu, apakah fenomena ini merupakan phobia baru yang sengaja diciptakan atau memang proyek infrastruktur china hanyalah sekedar proyek “white elephant/gajah putih” yang perlu diwaspadai?

Pada prosesnya, pakistan sri lanka, venezuela, dan zimbzbwe sudah tenggelam dalam palung daftar penghutang jangka panjang china, yang pastinya kemudian melahirkan reaksi politis serta pemikiran panjang dari negara negara calon penerima pinjaman lain. Sejak krisis ekonomi 2008, banyak negara miskin ingin menerima pinjaman china, dengan serta menawarkan hak manajemen pelabuhan atau bahkan investasi equitas pada aset aset strategis negaranya. Memang bila kita kaji lebih jauh, dalam kekalutan masih ada tangan yang tega berbuat nista (ebiet G. Ade).

Padahal di sisi lain sejarah mencatat, semua kekuatan dunia melakukan diplomasi ekonomi. Di abad 19 Pax-Britanica menggunakan poundsterling demi menjaga dominansinya dalam perdagangan internasional. Pasca perang dunia II, Pax-Americana menggunakan dollar untuk menjaga keunggulanya dalam ekonomi global dan geopolitis. jadi kalau kita adil, China dan Renminbinya hanyalah bagian dari realpolitik dalam hubungan internasional, bukan cuma konspirasi berbahaya.

Misalnya, Superioritas militer amerika yang memperkuat cengkramanya di tatanan geopolitik dan mendukung pelaksanaan sistem ekonomi yang diinginkan sembari mengamankan akses ke sumber daya vital. Contoh konkrit “gunboat diplomacy” amerika di iraq 2003 yang menghukum yang negara lemah yang tidak patuh pada kebijakan Amerika, menjaga tatanan geopolitis, sembari tentunya mengamankan cadangan minyak. Tentu berbeda dengan pendekatan legal china lewat ekonomi, china tidak berusaha mempromosikan ideologinya, tidak juga membangun kekuatan militer global, dan juga tidak punya mata uang global.

dari sisi china pun proyek ini bukan tanpa resiko. Semua kreditor yang meminjamkan pembiayaan proyek infrastruktur jangka panjang pastinya harus memperhitungkan resiko ekonomi atau politik. Maka bukan hal yang aneh jika china meminta premi resiko yang tinggi untuk investasinya di negara negara yang rentan. Gelembung investasi properti (investment bubble) dari proyek proyek yang mandek bisa berpengaruh kepada stabilitas ekonomi china jika tidah dimanage dengan baik.

Dulu, saat inggris di abad 19 mengancam penduduk lokal afrika barat, orang di afrika timur tidak ada yang tahu. Sekarang, kalau ada negara miskin tidak bisa membayar hutangnya, lalu infrastruktrnya disita, reaksi datang dari seluruh penjuru dunia. Seperti yang terjadi di Myanmar dan Srilanka, saat pemerintahnya berganti dengan yang demokratis, beberapa proyek infrastruktur dihentikan. Padahal, penundaan atau bahkan penghentian proyek infrastruktur bakal berdampak pada kerugian besar buat BUMN-BUMN china. Belum lagi masalah pengerusakan lingkungan yang sudah dirasakan dampaknya, baik oleh china sendiri atau di negara-negara klien china. Blunder blunder dari perusahaan china yang selalu dipersepsikan “demi memperjuangkan kepentingan negara china” bisa jadi memunculkan reaksi-reaksi anti-China, padahal bisa jadi itu ternyata merupakan perusahaan asal Singapur atau Taiwan.

BRI bisa dibilang bukan sekedar merupakan rencana infrastruktur internasional, tapi merupakan visi china dalam hal integrasi ekonomi dan pengaruh politik di kancah internasionl. walau seakan akan seperti ingin menyaingi sistem pemerintahan ekonomi global sejak PD II, saya melihatnya hanya sebagai opsi alternatif yang dihadirkan china untuk dunia. Selama ini, sistem keuangan global berputar pada kesepakatan hukum antara negara dan institusi institusi multilateral, seperti WTO, IMF, World Bank, dan PBB. Opsi China lebih sederhana, mengurangi friksi investasi dan perdagangan bukan dengan bertambahnya peraturan peraturan, tapi dengan keterhubungan fisik; Jalan raya, Rel kereta api, pelabuhan dan jalur pipa pipa yang akan mempermudah pendistribusian barang, serta menstimulasi kegiatan ekonomi dan investasi.

-White Elephant dan oligarki-
Dengan menggunakan teknologi dan ekonomi, ada 3 cara untuk mengontrol sebuah negara; pertama mengontrol hukum, peraturan, dan perundang undangan. kedua mengontrol media sosial, ketiga mengontrol kaum oligarki, alias pemerintahan yang ingin naik jabatan atau kekayaan. setelah itu, supaya cengkramanya makin erat, langkah selanjutnya bisa dilakukan; pertama, menguasai sumber daya alamnya, sehingga negara tersebut malah bergantung dalam hal makanan, energi, dan hasil alam, kemudian menjadi miskin untuk jangka panjang. kedua, menciptakan ketergantungan pada obat obatan, farmasi, dan alat alat kesehatan. ketiga, menggunakan teknologi informasi, satelit, internet, dan manajemen big data. keempat, mengontrol jalur distribusi dan logistik. kelima, mengontrol transaksi keuangan, perbankan, dan sistem pembayaran. Selain itu dibutuhkan juga kontrol sistem keuangan dan mata uang, alias investasi ekonomi. setelah itu, yang tersisa adalah mempraktekan strategi agar negara tersebut terbelit masalah ekonomi dengan menggunakan hutang. strategi ini membuat target terjembab di piramida terbawah dan makin terjembab karena suku bunga hutang tersebut yang makin banyak. riba, kamu jahat!

Dalam mencapai tujuan, untuk mempercepat pengontrolan suatu negara kita butuh antek antek, yang mana biasanya merupakan kaum oligarki di negara tersebut. orang-orang yang memiliki jabatan stategis dan menganggap jabatanya sebagai ladang basah untuk memperkaya diri. Dan parahnya, semua yang mereka bangun di negara tersebut lewat oligarki itu sebenarnya menggunakan kekayaan negara itu sendiri.

Buat negara atau globalis yang ingin mencapai hegemoni dunia, sebuah negara yang berdaulat dalam hal apapun adalah haram hukumnya. Ketika negara berdaulat pangan, sangat sulit untuk mengontrol pupuk, pestisida, benih, dan lain sebagainya. entah bagaimana caranya jadikanlah pertanian itu jadi sesuatu yang rumit dan ribet, dan kemudian mengimpor adalah sesuatu yang lebih mudah dan murah. ketika negara berdaulat teknologi, produk produk teknologi mereka tidak laku, maka SDM berkualitas dipancing agar bekerja di luar negri dengan salah satunya dengan membuat ekosistem industri dalam negri tidak kondusif untuk berkontribusi. Pendidikan dibuat hanya sebagai industri pencetak kaum pekerja pengisi pabrik pabrik milik asing. jika sebuah negara berdaulat secara moral, kaum oligarki sulit ditemukan, maka bombardir anak mudanya dengan teladan teladan yang jelek, tren tren dan kegiatan yang tidak bermanfaat, game game yang menyita waktu. Musuh utama mereka adalah kaum nasionalis, yang kebanyakan dimarjinalkan di sudut-sudut dunia.

Pengaruh china dengan senjata uangnya bisa jadi beresiko merusak sistem dan proses demokrasi. berideologi sosial tapi ironisnya malah bisa berkontribusi pada ketimpangan sosial dan korupsi politis. Transparansi dan akuntabilitas investasi asing harus tetap dikontrol, agar negara negara kecil tidak memprioritaskan kekuatan asing daripada suara rakyat kecil, dan mencegah agar antek antek tidak menjual elemen elemen kedaulatan negara kepada penawar tertinggi. misalnya menggoalkan proyek proyek “white elephant” atau proyek biasa dengan kualitas ala-ala Tofu Building.

Resiko hutang tidak hanya tergantung dari jumlah yang dipinjam, melainkan juga apakah pinjaman itu diguanakan secara produktif untuk mengkasilkan keuntungan jangka panjang atau malah dipakai untuk pembiayaan proyek proyek “White Elephant”. Yang harusnya dipertimbangkan itu bukan hanya ukuran hutangnya, tapi juga lebih penting lagi kualitas proyek yang dibiayai serta kemampuan sang penghutang untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan juga tentunya ; ekspor!. Mengambil opsi hutang dari China pada dasarnya bukan “perangkap”, karena yang berbahaya itu kalau hutang tersebut malah digunakan untuk proyek proyek White Elephant yang ngga berfaedah bagi publik atau berinvestasi pada infrastruktur tanpa menggenjot ekspor.

Di berbagai negara masalah infrastruktur biasanya justru bukan karena ketiadaan proyek yang potensial, tapi karena kurang biaya. Di indonesia-pun, perkembangan negara dan keberhasilan pemerintah “diukur” dengan banyaknya infrastruktur yang dibangun, sebagai pondasi ekonomi. Para pemangku kebijakan seyogyanya memastikan tiap proyek investasi menaati peraturan pemerintahan, meningkatkan standar proyek infrastruktur, memperhatikan lingkungan, dan mengikuti standar transparansi.
Bagi china, seharusnya usaha mempererat jalinan ketergantungan ekonomi dengan negara negara lain lewat peminjaman hutang hanyalah merupakan langkah awal. Langkah selanjutnya yaitu menjaga lingkungan dan alam, mendengarkan suara rakyat setempat, memberikan penggantian dan kompensasi yang layak buat warga sekitar yang tanahnya dipakai, serta menurunkan suku bunga pinjaman agar negara negara tersebut tidak lagi khawatir harus menyicil masa depanya ke China. jikakalau semua ini terpenuhi, makan BRI atau proyek investasi apapun layak disambut dalam sistem ekonomi global.

ketika teknologi berkembang, kepentingan negara semakin tidak diutamakan, dan kekayaan personal cenderung meningkat. China tidak punya sistem yudisial yang memfasilitasi kepemilikan properti, sehingga orang orang china yang kaya kemudian mentransfer aset dan kekayaan mereka ke negara lain, misalnya Amerika. Hal yang sama juga terjadi pada orang orang kaya di rusia atau negara negara arab. Memangnya bisa, pemimpin global adalah negara yang masyarakat kayanya malah mau bermigrasi ke negara lain?

semoga saja negara negara penerima pinjaman nanti nasibnya bakal diuntungkan seperti halnya inggris ketika membiayai pembangunan jalur kereta api amerika di abad 19. Yang pada akhirnya rel-rel itulah yang menjadi salah satu pondasi yang kemudian meroketkan amerika dalam kepemimpinan ekonomi global.

jadi, mau pilih mana?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *