literature

Oleh: Heri Purwanto Sidiq

Sastra itu dunia yang khas, unik, tetapi asing. Sastra unik, karena ia selalu bermain dengan kata-kata. Ia menjelma melalui perantara kata dan kalimat. Itulah mengapa kata- kata bagi sastrawan, tinggi nilainya laksana mutiara berharga mahal. Kata-kata itu sendiri terwujud dari rangkaian simbol yang dinamakan huruf. Adapun simbol huruf, merupakan kesepakatan seluruh masyarakat bahwa huruf itu bernama “A”, “B” dan seterusnya.

Sampai saat ini, simbol-simbol yang dinamakan huruf ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu huruf hidup (vokal) dan huruf mati (konsonan). Gabungan antara huruf hidup (vokal) dengan huruf mati (konsonan) itulah dinamakan kata.

Ya, hanya dengan kata-kata itulah, sastrawan mampu mengguncang dan merubah dunia, mempengaruhi, menyihir, dan menghipnotis, bahkan memprovokasi pembacanya. Kata- kata yang tertata apik dan penuh cita rasa, memaksa penikmatnya untuk mengikuti ide, gagasan atau seruan seorang sastrawan.

Kita bisa melihat kisah-kisah perang klasik; misalnya perang di tanah Arab pada awal-awal ajaran agama Islam disebarkan. Banyak riwayat yang menyebutkan jika dahulu para sahabat Nabi Muhammad SAW yang ahli membuat syair, diperintahkan oleh Nabi untuk meningkatkan semangat juang tentara muslim melalui syair,dan mereka dijuluki penyair Nabi, salah seorang diantara mereka adalah Hasan bin Tsabit.

Para sahabat menyusun syair begitu indah, bahkan dibarengi dengan gambaran pahala surga yang penuh kenikmatan. Karena syair itu, tidak heran jika para pejuang muslim akibat asupan sastra dan balutan keimanan yang tinggi- tak gentar melawan musuh (kaum kafir) yang jumlahnya berlipat-lipat.

Berikut penggalan syair Hasan bin Tsabit dalam membela Nabi Muhamad SAW

هجوت محمدا فأجبت عنه وعند هللا يف ذاك اجلزاء

Kamu menghina muhammad maka aku pun membelanya, dan di sisi Allah pada hal itu ada ganjarannya.

Hanya dengan kata-kata, sastrawan mengaliri dan mengasupi jiwa penikmatnya, menyuguhkan kedamaian, ketentraman, dan optimisme untuk menjalani hidup. Hanya dengan kata-kata pula sastra menjadi mediasi letupan imajinasi dan alam eksistensial para sastrawan, yang tak mampu dituangkan dalam pembendaharaan kosakata bahasa formal atau bahasa ilmiah yang dangkal, kaku dan kering kerontang.

Kata-kata dalam sastra, mampu berperan seperti sihir, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

إن من البيان لسحرا

“sesungguhnya di antara bayan adalah sihir” (HR.Bukhari)

Menurut Wahyudin, Sihir di sini bukan dimaksud ilmu sesat ataupun ilmu hitam, melainkan kekuatan kata yang dapat mempengaruhi seseorang[1]

Sebagian besar kita, sering menganggap sastra sebagai dunia asing. Ibarat sebuah pulau belum dikenal kalau orang aceh bilang negeri timbuktu. Tidak setiap orang peduli, konsen, apresiasi, bergelut, atau hidup dari sastra. Mengapa? Karena secara pragmatis, sastra dianggap tidak mampu memberikan kontribusi, apalagi kelimpahan materi. Mereka yang berlabuh dan mendedikasikan hidupnya di dunia sastra adalah mereka yang terpilih atau orang yang batinnya terpanggil seruan bilur-bilur potensi estetika dalam dirinya, yang secara kodrati merupakan anugrah dari Tuhan.

Apalagi, untuk menjadi seorang sastrawan juga bukan perkara mudah. Gelar sastrawan ini bukan sebuah gelar yang bisa diperjual belikan. Juga bukan gelar yang bisa diperoleh melalui bangku kuliah atau institusi pendidikan formal. Seorang mahasiswa yang mengambil fakultas atau jurusan sastra, setelah lulus tidak lantas menjadi sastrawan. Jika intensitas pergulatannya terhadap karya-karya sastra, dan karyanya diakui oleh masyarakat, ia layak disebut sastrawan.

Sebaliknya, mereka yang mempelajari materi, metode, dan segala seluk-beluk dunia sastra tapi hanya pasif, tatkala lulus dia bukan sastrawan. Ia hanya memiliki gelar akademik saja. Gelar sastrawan diberikan masyarakat lantaran karya-karya seseorang bisa memberi perubahan, pencerahan, dan transformasi dalam masyarakat.

[1] Wahyudin, A to Z Anak Kreatif (Jakarta : Gema Insani, 2007), Hal 146

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *