Oleh : Zaki Mubarok

Mungkin banyak dari kita yang masih belum mengenal dan memahami esensi dari tarikh. Tarikh sendiri merupakan lafadz dari bahasa arab yang artinya sejarah. Lalu muncul pertanyaan apa itu sejarah?  Untuk apa kita mempelajarinya? Apa hukum mempelajarinya? Betulkah sejarah itu dapat kita tulis dengan semau kita? Bagaimana perspektif para ulama islam terdahulu mengenai sejarah? Serta bagaimanakah cara menulis sejarah yang baik dan benar? untuk itu mari kita coba ulas satu persatu.

Sejarah adalah sekumpulan peristiwa atau kejadian yang mana telah terjadi dimasa lampau. Sejarah juga bisa kita katakan sebagai ilmu dan seni. Mengapa demikian? Karena didalam sejarah berisi sebuah kejadian yang terjadi di masa lampau untuk kita hadirkan di masa sekarang. Misalkan, peristiwa terjadinya perang badar, melalui sejarahlah kita dapat mengetahuinya dan kita dapat membayangkan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Tentu jelas ini yang dinamakan seni.

Disamping itu, ada juga Ilmu lain yang hampir sama dengan sejarah dalam konteks metodologinya yaitu ilmu geologi. Seperti misalnya proses terjadinya siang dan malam. Karena ilmu geologi mempelajari kejadian yang terjadi dimasa lampau, yang mana dapat kita rasakan melalui panca indra  الحسية . Sedangkan sejarah mempelajari kejadian yang terjadi dimasa lampau yang mana dapat kita rasakan melalui perasaan المعنوية (metafisika).

Perlu kita ketahui bahwasanya sejarah juga dijelaskan didalam Alquran , karena isi didalam Alquran itu terdiri dari :

1/3 adalah Aqidah  (العقيدة) yang terkandung didalamnya kepercayaan dan perintah untuk mengesakan Allah. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu, yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama

1/3 diantaranya adalah Hukum (الحكم)  yang mana didalamnya dituliskan perkara hak dan batil juga perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili dan memberikan hukuman pada sesama manusia secara adil dan bijak. Hukum islam  (الفقه) berdasarkan Alqur’an ada beberapa jenis seperti Jinayat, mu’amalat, munakahat, faraidh dan jihad.

Kemudian 1/3 yang terakhir merupakan Cerita (القصص)  yang mana didalamnya terdapat sejarah dan kisah mengenai orang-orang yang terdahulu baik itu yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang mengalami kebinasaan dan adzab akibat ingkar terhadap Allah SWT. Untuk itu marilah kita ambil pelajaran yang baik-baik berdasarkan sejarah masa lalu.

Berbicara mengenai hukum, hukum mempelajari sejarah dalam konteks penggunaan dan istifadah, para ulama berpendapat diantaranya antara lain :

Wajibyaitu mempelajari siroh nabi muhammad SAW sebagai suri tauladan dan uswah bagi seluruh umat manusia, juga para sahabat dan tabiin.

Haramyaitu mendalami sejarah secara mendetil dengan hal-hal yang berbau tahayul dan fasik yang dilakukan orang-orang terdahulu jahiliyah dan riwayat yang terdapat didalam kitab lain seperti taurot dan injil (isroiliyah).

Mubahyaitu mempelajari sejarah dari kerajaan dan pemerintahan yang ada pada zaman dahulu serta mengambil ibroh dan pelajaran yang ada didalamnya.

Makruhyaitu mempelajari hal-hal yang terjadi pada rasul dan juga para sahabat meliputi perselisihan dan perdebatan diantara mereka, seperti halnya fitnah yang telah terjadi pada zaman khalifah Usman bin affan RA.

Sejarah bila di tinjau dari perspektif para ulama salaf islam terdahulu seperti halnya Imam Thobari, Ibnu Katsir dan juga ibn khaldun, mereka merupakan tokoh besar yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Mereka merupakan muhaddis mufassir dan juga muarrikh. Mereka menuliskan sejarah dari awal mula terbentuknya bumi ini dan mengumpulkan semua data sehingga terkumpulah itu semua menjadi sebuah karya yang tersusun dari beberapa volume.

Di dalam penulisan sejarah tentu saja kita tidak bisa menulis dengan senaknya, terlebih hanya mengedepankan ego pribadi maupun golongan. Tentu hasilnya akan bersifat subjektif dan non objektif dalam menilai dan menimbang suatu kisah atau peristiwa.

Ada sebuah kutipan yang menyebut bahwasanya  “History has been written by the victors” oleh Winston Churchill. Sejarah hanya ditulis bagi para pemenang. Pemenang yang dimaksud dalam pernyataan diatas yaitu ketika ada dua buah kultur yang saling berbenturan satu sama lain, maka yang kalah akan di hancurkan dan pemenangnya lah yang akan menulis sejarah berdasarkan satu sisi saja. Tentu saja ini bukanlah sejarah yang benar dan hakiki sebagaimana kita harapkan. Dan ini merupakan ungkapan yang tidak bisa dijadikan standar dalam menilai sejarah, karena ulama salaf terdahulu mereka menulis sejarah berdasarkan riwayat dan metode yang tentunya benar dan sesuai fakta.

Dari pernyataan diatas lantas bagaimanakah cara penulisan sejarah yang baik? Dan metode agar kita terhindar dari sifat egoisme dan non koprehensif? Tentu ada beberapa kriteria yang harus dimiliki sejarawan dalam unsur penulisan sejarah yang baik diantaranya :

Berilmu dan mengetahui sejarah dengan baik melalui riwayat (العلم بالأحداث)

  1. Amanah didalam menyampaikan (الأمانة)
  2. Sabar dan teguh (الصبر و المثابرة)
  3. Non blok atau objektif (الإنصاف و النزاعة)
  4. Tidak dalam ketakukan atau ancaman dari suatu pihak, dan bukan untuk mengejar suatu kepentingan materi maupun non materi (عدم التأثير بعوامل الرهبة و الرغبة)
  5. Tidak mengklaim suatu kebenaran dan selalu bersifat rendah hati (الحقيقة النسبية)

Dari beberapa unsur diatas diharapkan para sejarawan dapat memberikan tulisan yang objektif, kaya akan wawasan berdasarkan riwayat para ulama yang ada. Sehingga tidak ada pihak yang merasa di rugikan atau bahkan tersakiti dari penulisan tersebut. Karena itu bisa menimbulkan Api fitnah yang mana dengan cepat akan melahap siapa saja yang terjebak di dalamnya. Karena sungguh fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. Wallahu A’lam bishowab.


Daftar Pustaka :

– Khalid Fuad, Dr., ‘Ilmu at-Tarikh wa Minhaaj at-Tarikh

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *