homo-economicus-2

Teori dalam disiplin Ilmu Ekonomi Modern dibangun melalui aksiom atau asumsi yang mendukung bahwa setiap manusia selalu berpikir dan bertindak secara rasional. Oleh karna itu, asumsi bahwa setiap individu haruslah memiliki sifat mementingkan diri sendiri, agresif, dan kompetitif adalah hal yang wajar dan bahkan memang harus menjadi motivasi oleh semua pelaku ekonomi agar dapat bertindak rasional untuk mencapai sebuah objektivitas dalam berekonomi. Dikalangan ekonom sendiri, mereka selalu menganggap bahwa semua manusia adalah Rational Robots, atau sering disebut dengan istilah Homo Economicus, dimana manusia selalu berpilaku mengikuti hukum matematika. Maka tidak diragukan lagi, jika proses pemodelan sebuah teori ekonomi terbiasa mengunakan penjelasan penjelasan grafik dan matematika dalam mentafsirkan sebuah fenomena ekonomi.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah benar jika manusia selalu memiliki sifat mementingkan diri sendiri, agresif, dan kompetitif guna menjaga konsistensi berpikir dan bertindak rasional yang ada di berbagai teori ekonomi sesuai dengan kenyataan yang ada di masyarakat? Maka jawabannya adalah tidak, karena memang tidak ada studi empiris yang menyatakan demikian. Pada tahun 1980an, beberapa psikolog melakukan eksperimen mengenai perilaku manusia pada teori ilmu ekonomi, dan hasilnya pun mengatakan bahwa perilaku manusia berlawanan dengan aksiom atau asumsi yang ada pada teori ilmu ekonomi, adapun salah satu alat eksperimen yang digunakan adalah The Prisoner’s Dilemma. 

The Prisoner’s Dilemma atau Dilema Tahanan adalah sebuah Game Teori yang berkaitan dengan situasi kehidupan keseharian, dimana salah satu dari dua pihak dapat mengambil manfaat dari menghianati suatu persetujuan, selama salah satu dari mereka masih tetap menjaga persetujuan tersebut. Namun, apabila dari kedua pihak sama sama berkhianat, maka tidak ada satu pihak pun yang bisa mengambil manfaat dari menghianati persetujuan tersebut. Dari situ, menurut sudut pandang prediksi teori ilmu ekonomi, persetujuan tersebut akan dikhianati, dan tidak akan ada kerja sama antar kedua pihak, dikarenakan motif mementingkan diri sendiri akan mendominasi kedua pihak. Namun faktanya di lapangan adalah, setelah eksperimen diujikan, hasilnya menunjukan jika manusia cenderung memiliki perilaku untuk bekerja sama dengan pihak lainnya, artinya setiap individu akan saling menjaga persetujuan tersebut, bahkan dengan orang yang belum mereka kenal sekalipun. Maka dari studi empiris tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa motif perilaku seperti saling mempercayai satu sama lain, mementingkan kepentingan orang lain, bermurah hati terhadap sesama, dan motif lainnya, ini semua secara empiris justru mendominasi setiap individu, dan juga motif motif inilah yang justru absen pada aksiom atau asumsi dari teori ilmu ekonomi moderan. Maka, dari kegagalan teori ekonomi dalam menampilkan fakta lapangan dari aksiom dan asumsinya inilah yang mendorong awal mula munculnya cabang ilmu ekonomi baru yaitu Behavioral Economics, yang mana bidang ini bisa dikatakan lebih realistis dengan penyesuaianya terhadap bukti observasi dan perilaku manusia sesungguhnya. Disatu sisi, aksiom dan asumsi lawas yang secara empiris telah terbukti kontradiktif masih dianggap modern, dan entah mengapa, para ekonom menolak untuk mempelajari secara mendalam hasil studi yang menunjukan adanya konflik antara fakta lapangan dengan aksiom yang ada pada teori di ilmu ekonomi. Ditambah lagi, yang lebih mengejutkan adalah hampir semua buku panduan ilmu ekonomi di seluruh negara tetap mengajarkan dan menyampaikan aksiom atau asumsi fiksinya yang seakan akan sudah terbukti melalui studi lapangan, sementara itu behavioral economics masih dipandang sebelah mata, bahkan cenderung diabaikan.

Asumsi atau aksiom dalam teori ekonomi modern yang mendorong rasionalitas dalam berekonomi tanpa memperhatikan nilai moralitas di sebuah masyarakat bukan berarti tidak membawa pengaruh buruk sama sekali, hal ini justru mengundang perilaku buruk dari pelaku ekonomi itu sendiri. Salah satu contohnya, pada bulan Desember 1991, Lawrance Summer, mantan kepala staf ekonomi di organisasi World Bank, mengirimkan sebuah nota kepada beberapa koleganya, yang mana inti dari nota tersebut adalah menyarankan World Bank untuk mendorong pembangunan pabrik pabrik industri “kotor” di negara berkembang untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan dari polusi pabrik yang dialami di negara maju. Sekilas, ide yang disampaikan Lawrance Summer sangatlah cerdas dan efisien secara ekonomi, namun yang perlu diketahui adalah banyaknya nilai nilai moralitas yang dilanggar, terutama bagaimana ia memanfaatkan ketidak pahaman penduduk negera berkembang mengenai bahaya dari polusi bagi generesi mereka, dan memanfaatkan situasi ekonomi sebuah negara berkembang yang berpenghasilan rendah, tidak mengejutkan jika setelah itu banyak bermunculan kritik terhadap pemikiranya. Contoh lainya, seorang pakar ekonomi peraih nobel laureate, Milton Friedman, Ia berargumen bahwa para pelaku bisnis haruslah memaksimalkan profit mereka tanpa perlu memikirkan kompensasi tanggung jawab sosial. Bagi perusahaan besar multinasional, argumentasi tersebut tentu bagaikan dalil kuat yang dijadikan sandaran berhujah untuk menjastifikasi kegiatan eksploitasi besar-besaran mereka terhadap kekayaan alam di sebuah negara dengan mengunakan berbagai metode yang berpotensi besar mengancam kerusakan ekosistem alam. Eksternalitas yang harus ditanggung publik dari aktifitas eksploitasi masif tersebut begitu besar dan bahkan akan mengancam generasi berikutnya, namun seperti biasa, klaim profit yang begitu besar pula hanya datang dari pihak perusahaan. Sangat jelas, Socializing Losses and Privatizing Gains ini dimanfaatkan dengan baik oleh pihak perusahaan.

Homo Economicus yang indentik dengan sifat mementingkan diri sendiri dan terkesan serakah menjadi salah satu akar penyebab sebuah ekonomi gagal untuk mencapai titik kesejahteraan bersama. Memulai sebuah teori dengan mengasumsikan bahwa setiap individu adalah a Selfish Person, secara tidak langsung memaksakan suatu sifat untuk mendominasi cara berpikir dan berperilaku seseorang, yang pada awal mulanya manusia jauh dari sifat tersebut. Ketika cap Selfish Person telah melekat pada setiap individu, maka mereka pun akan termotivasi untuk memerankan dengan baik sifat tersebut, tidak akan ada lagi sifat altruistis yang seharusnya bisa muncul dari hati seseorang, tidak ada lagi rasa tulus untuk saling berbagi, tidak ada lagi rasa suka rela untuk membantu sesama, dan inilah yang nantinya akan terus mengakibatkan kesenjangan ekonomi pada sebuah masyarakat, dan dari kesenjangan ini pula akan muncul berbagai macam masalah sosial. Dan sudah saatnya Homo Economicus mulai belajar akan pentingnya nilai moralitas, sifat sifat positif yang mendorong kepedulian antar sesama, dan membuang jauh sifat sifat yang berpotensi mengangu atau merusak aktivitas ekonomi menuju kesejahteraan bersama.

Oleh : Irham Syahbana

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *