skripsi

Oleh: Heri Purwanto Sidik

Skripsi adalah salah satu syarat yang harus dilalui mahasiswa tingkat akhir khususnya di Indonesia . Umumnya mahasiswa diberikan waktu satu semester untuk mengerjakan skripsi ini. Namun tidak jarang kita temukan ada yang lebih dari satu semester, bahkan ada yang sampai disebut “mahasiswa abadi” karena skripsinya yang tidak selesai-selesai. Tipikal mahasiswa yang sedang menyusun skripsi pun berbeda-beda, ada yang bersemangat, ada yang biasa-biasa saja, ada yang terlalu santai, ada juga yang menganggap skripsi sebagai beban.

Dalam pembuatan skripsi, pertama-tama yang harus dipersiapkan adalah tema/judul skripsi. Penentuan tema/judul skripsi didasarkan pada studi pustaka, hasil diskusi, pengamatan sepintas, dan pengalaman pribadi. Waktu yang diperlukan untuk penentuan judul skripsi ini tergantung individu sesuai dengan tingkat pemahamannya terhadap topik yang ingin dikaji. Selain dengan cara ini, biasanya mahasiswa memilih untuk meminta langsung judul topik penelitian kepada dosen agar tidak menghabiskan waktu yang lama dalam menentukan judul.

Setelah itu, mahasiswa harus mengajukan proposal skripsi berupa gambaran skripsi yang akan dikerjakan yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metode penelitian yang digunakan. Proposal skripsi tersebut dikonsultasikan kepada pembimbing, dibaca dan kemudian diberikan catatan terhadap tulisannya. Setelah proposal skripsi diperbaiki, maka proposal dibagikan kepada pembimbing dan penguji untuk ditentukan waktu seminarnya. Seminar proposal dilakukan untuk mengetahui kesiapan mahasiswa dalam penulisan, metode yang digunakan, software penelitian yang dipakai, dan sebagainya. Hasil seminar kemungkinan tidak diterima bila salah satu kategori di atas tidak terpenuhi. Selanjutnya, jika proposalnya diterima maka penulisan skripsi bisa dilanjutkan. Sidang akhir akan diadakan setelah penulisan skripsi selesai dengan bukti bimbingan dari dosen pembimbing. Begitulah gambaran penulisan skripsi di Indonesia.

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya telah menulis 3 skripsi selama ini. Saya menulis skripsi pertama sekali ketika saya mengambil Diploma Dua (D2) di Ma’had ‘Aly

Ar-Rayah, Sukabumi. Saya menulis tentang shalat jama’ bagi orang mukim dengan pembimbing dari Negara maroko, saya menukil pendapat yang membolehkan shalat jama’ bagi orang mukim, dan juga menukil pendapat yang tidak membolehkan shalat jama’ bagi orang mukim, Hasil penelitian saya condong ke pendapat Ibnu Munzir yang membolehkan shalat jama’ bagi orang mukim, bukan karena sakit, ketakutan, ataupun hujan, asalkan tidak menjadikan shalat jama’ tersebut menjadi kebiasaan.

Selanjutnya skripsi kedua saya ketika di jenjang strata satu di jurusan bahasa dan sastra arab UIN Ar-Raniry. Saya menulis skripsi mengenai tentang konflik kelas sosial pada novel “Wahsyi si Pembunuh Hamzah” karangan Najib Al-Kailani. Saya menggunakan metode analisis Deskriptif dalam skripsi ini yaitu menjelaskan fakta-fakta yang terjadi di dalam novel yang kemudian dianalisis berdasarkan teori konflik kelas sosial Karl Mark. Karl Mark menjelaskan masyarakat itu dibagi 2 kelas yaitu kaum borjuis (bangsawan) dan proletar (budak). Kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam sistem produksi yaitu memberikan pekerjaan di luar kesanggupannya, dengan upah yang sedikit. Eksploitasi tetap mengakar jika tidak ada kesadaran dari kaum proletar bahwa dirinya telah dieksploitasi, di akhirnya kaum proletar tidak tahan terhadap kondisi mereka, dan melakukan perjuangan melawan kaum borjuis. Jika dihimpun teori konflik kelas sosial Karl Mark meliputi 3 aspek yaitu Eksploitasi kaum borjuis kepada kaum proletar, adanya kesadaran dari kaum proletar, dan perjuangan kaum proletar melawan kaum borjuis. Di dalam novel “Wahsyi si Pembunuh Hamzah” karangan Najib Al-Kailani, Masyarakat dibagi dua kelas yaitu majikan (Borjuis) dan budak (Proletar), dan terdapat eksploitasi majikan terhadap budak, yaitu

Jubair bin Muth’im terhadap Wahsyi. Wahsyi dipekerjakan dengan sangat tidak layak yang melebihi batas kemampuannya, dan hanya diberikan makanan dan minum saja. Kesadaran wahsyi yang menganggap dirinya sama saja dengan hewan, karena hewan-hewan juga makan dan minum dan hidup seperti ini membuat dia sengsara. Sehingga dia menginginkan kebebasan, dan kebahagiaan walaupun kebebasan itu dengan membunuh. Kesimpulan yang saya peroleh di akhir skripsi bahwa novel “Wahsyi si Pembunuh Hamzah” sesuai dengan teori kelas sosial Karl Mark.

Kemudian pada awal tahun 2016, saya menyelesaikan skripsi saya di jurusan kimia, Universitas Syiah Kuala. Saya menghabiskan waktu saya di jurusan kimia hampir 6,5 tahun, dikarenakan 2 kali proposal skripsi saya ditolak penguji. Proposal yang pertama berjudul “Kajian Teoritis untuk Menentukan Celah Energi Bahan Semikonduktor (Si, Ge, In) dengan Menggunakan Density Functional Theory (DFT)”. Alasannya karena software yang saya gunakan tidak berlisensi dan untuk membeli lisensinya sangat mahal (senilai 20 juta rupiah). Hal tersebut membuat saya tidak melanjutkan penelitian mengenai topik tersebut. Kemudian saya memilih judul lain yang masih menggunakan software kimia tetapi yang berbasis opensource dengan judul “Prediksi Tingkat Pencemaran Air Tanah Berdasarkan Perubahan Iklim ”. Sampelnya berupa data tentang ion utama seperti Ca2+, Na+, K+, dan Mg2+ yang bisa diperoleh di BAPEDAL (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan) tetapi gerakan saya terhambat lantaran Ketua Jurusan Kimia saat itu tidak mengeluarkan surat penelitian untuk saya agar bisa mengambil data di sana, padahal pihak kepala BAPEDAL sudah menyetujui asalkan ada surat resmi dari kampus.

Setelah itu, akhirnya saya mencari alternatif dengan memikirkan judul lain, tetapi kali ini saya tidak menggunakan software. Penelitian saya berbasis laboratorium, Penelitian ini berawal dari pantauan saya terhadap sekam padi yang tidak dipergunakan secara optimal, bahkan di beberapa tempat sekam padi dibuang dan dianggap sebagai bahan yang kurang bermanfaat. Padahal sekam padi yang telah dibakar (arang sekam padi) merupakan bahan yang sangat potensial sebagai bahan penyerap logam berat. Arang sekam padi dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap) dikarenakan memiliki material yang berpori yang mengandung karbon dan silika yang efektif menyerap ion logam berat. Dalam tahun terakhir, kandungan logam berat di perairan mulai mendapat perhatian serius oleh ahli toksilogi. Beberapa logam berat seperti Fe, Cu, dan Mn merupakan elemen penting bagi manusia untuk bertahan hidup, tapi disisi lain dalam konsentrasi yang besar dapat menjadi racun dalam pertumbuhannya. Ion logam yang dipilih untuk diuji adalah mangan (II), karena merupakan salah satu pencemar lingkungan yang serius, karena sifat racunnya terhadap sistem pernapasan dan otak menyebabkan halusinasi, pelupa dan kerusakan saraf. Metode penelitian yang digunakan adalah metode batch yaitu dengan melihat kemampuan adsorben (arang sekam padi) dengan cara mencampurkannya dengan larutan MnSO4 yang tetap jumlahnya, dan mengamati perubahan kualitasnya pada selang waktu tertentu. Kesimpulan dari skripsi ini adalah Arang Sekam padi efektif dalam menyerap ion mangan (II).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *