“Kerjakan yang Allah senangi, maka Allah akan wujudkan yang anda senangi. Binalah umat niscaya umat membinamu, tak usah dipikirkan yang tidak mungkin, kerjakan mana yang bisa, mulai dengan apa yang ada, karena yang ada itu sudah cukup untuk memulai” -M. Natsir-

Perihal menyeru kepada Allah SWT tidak ada batas akhirnya hingga matahari terbit dari arah Barat. Selama pandemi ini belum berakhir maka selama itu pula seorang daidituntut untuk berusaha lebih keras lagi dalam menyeru dan membina umat. Tidak ada alasan untuk tidak menyeru umat kepada sebuah proses taqarub ilallah, tidak ada alasan pula untuk rehat sejenak dari menyeru dan membina umat. Aktivitas tersebut harus terus digalakkan supaya umat lebih terdidik dan terpelajar, di sisi yang lain supaya umat masih tetap dalam koridor agama.

Tidak seperti hari-hari sebelumnya ketika tokoh agama bisa dengan mudah menyampaikan kajian dan materi tentang keagamaan di masjid, mushola serta majelis taklim lainnya. Mampu untuk pergi kesana kemari silih berganti tempat untuk menghadiri undangan kajian, menyampaikan materi seperti apa yang dikehendakinya tanpa ada rasa was-was yang menggelayuti hatinya.

Selama pandemi ini juga sering kita jumpai agenda-agenda atau kegiatan keagamaan yang dilakukan lewat media sosial atau melalui sistem daring. Salah satu sisi positif dari proses globalisasi dalam bentuk media yang bisa kita andalkan dan gunakan untuk tetap melakukan kegiatan menyeru dan membina umat. Meskipun tidak sedikit juga sisi negatif yang ditimbulkan oleh proses globalisasi media, kita tidak bisa menutup mata akan hal tersebut.

Ada segelintir orang yang berasumsi bahwa seorang tokoh agama akan menutup mata terhadap perkembangan globalisasi atau bahkan buta akan hal tersebut, meskipun positif atau negatif dari proses globalisasi media kita kembalikan kepada si pengaksesnya. Seharusnya selama pandemi ini orang yang berasumsi seperti itu sudah bisa melihat dan membuktikan bahwa asumsinya tersebut tidak benar atau salah. Dengan aturan yang telah dianjurkan oleh World Health Organization (WHO) untuk melakukan physical distance atau pembatasan untuk saling bersentuhan satu dengan yang lainnya maka metode dakwah menggunakan media sosial atau beberapa platform inilah yang bisa diandalkan dan harapkan selama pandemi ini.

Beberapa media sosial yang sangat familiar bagi masyarakat Indonesia, menurut survey dari data boks pada bulan Februari tahun 2020 media sosial yang paling sering diakses oleh masyarakat Indonesia adalah youtube,  posisi kedua ditempati oleh whatsApp, facebook, instagram dan twitter. Masih menurut survey data boks youtube merupakan platform yang paling sering diakses oleh kalangan usia 16 hingga 64 tahun, persentase masyarakat yang mengakses platform tersebut menyentuh angka 88%.

Tidak hanya beberapa platform tersebut selama pandemi ini ada beberapa platform lain yang sering digunakan oleh beberapa tokoh agama dan lembaga keagamaan untuk menyeru dan membina umat, sebut saja zoom, skype dan google meet. Meskipun beberapa hari yang lalu seperti dilansir oleh kanal berita CNN Indonesia platform zoom melakukan sebuah kebijakan yang dinilai blunder oleh beberapa kalangan, seperti halnya platform tersebut kurang menjaga enkripsi penggunanya hingga membagi privasi penggunanya ke facebook.

Terlepas dari semua itu masyarakat Indonesia masih saja tetap melakukan pertemuan menggunakan platform tersebut. Kemungkinan besarnya adalah masyarakat Indonesia masih keukeuh untuk menggunakan platform tersebut dikarenakan ada satu fitur dari platform tersebut tidak melakukan tagihan atau bisa digunakan secara cuma-cuma bagi pengaksesnya, meskipun dalam seri yang lama dari platform tersebut dibatasi oleh durasi yang hanya sekitar 40 menit saja. Seiring dengan berjalannya waktu dan seiring dengan pemakaian yang mulai  melonjak dari platform tersebut si empunya kebijakan memutuskan untuk mencabut limit waktu tersebut, meskipun kebijakan tersebut tidak berlangsung lama.

Menggunakan platform apapun dan dengan segala macam rintangan dan halangan selama pandemi ini dakwah untuk menyeru dan membina umat harus tetap berjalan, seperti kata M.Natsir “ …. Kerjakan mana yang bisa, mulai dengan apa yang ada, karena yang ada itu sudah cukup untuk memulai”.

Kegiatan menyeru dan membina umat tidak hanya berpusat dan tersentral hanya di masjid saja, memberikan edukasi untuk tetap menjaga kebersihan dan kesehatan diri pun juga termasuk menyeru dan membina umat. Memang masjid merupakan salah satu sarana untuk melakukan kegiatan menyeru dan membina umat, bukan berarti kegiatan menyeru dan membina umat tidak bisa dilakukan di luar masjid.

Selama pandemi ini belum berakhir peran tokoh keagamaan dan lembaga keagamaan masih sangat diperlukan guna memberikan seruan dan melakukan kegiatan edukasi ke masyarakat terkait pandemi ini. Mengapa demikian? mayoritas masyarakat Indonesia masih beragama, meskipun tidak sedikit juga yang hanya sebagai formalitas saja mencantumkan agama dalam kartu tanda penduduknya. Di Indonesia memilih untuk tidak beragama masih belum disahkan oleh undang-undang, meskipun beberapa tahun yang lalu aktivis kemanusiaan sudah menyuarakan dan mendesak dewan perwakilan rakyat (DPR) untuk mengesahkan undang-undang yang mengatur akan hal tersebut.

Hingga saat ini majelis ulama Indonesia (MUI) dan beberapa organisasi kemasyarakatan (Ormas) selama pandemi ini pun sudah banyak melakukan kegiatan menyeru dan membina umat dari jarak jauh atau menggunakan sistem daring. Sistem ini dirasa yang paling efisien dan mampu menghemat waktu dan tenaga. Jika selama pandemi ini kita melakukan kegiatan menyeru dan membina umat dengan cara datang ke rumah masing-masing maka itu adalah sebuah metode yang sangat sia-sia belaka. Di samping membuang banyak waktu dan tenaga kegiatan tersebut juga melanggar aturan yang telah dianjurkan oleh WHO dan ditetapkan oleh pemerintah yakni physical distance.

Sebuah kegiatan menyeru dan membina umat dengan inovasi yang baru ditempuh oleh beberapa tokoh agama dan lembaga keagamaan demi tetap berjalan dan berlangsung pesan-pesan ilahiyyah kepada umat. Dengan metode yang baru ini tidak sedikit masyarakat Indonesia yang antusias untuk turut serta mengikuti kegiatan tersebut. Selama musim pandemi ini hampir setiap hari ada kegiatan kajian yang bersifat daring yang dilakukan oleh beberapa tokoh agama atau beberapa ormas yang ada.

Di satu sisi pandemi ini membawa anugerah dengan lebih maraknya kajian tentang pengetahuan dan tentang ilmu keagamaan, demi terciptanya umat yang terdidik dan terpelajar. Sebuah fenomena yang patut disyukuri ketika pandemi ini berlangsung, semoga saja kegiatan semacam ini masih bisa berlangsung ketika pandemi ini berakhir nantinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *