Pergolakan pemikiran pada akhir-akhir ini tidak mungkin untuk dihindari, sebagaimana kata seorang filsuf kenamaan Prancis yakni Rene Descartes “Cogito ergo sum”. Sebuah ungkapan ini kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar  kurang lebih seperti ini “Aku berpikir maka aku ada”. Sebuah pergolakan pemikiran sejatinya sudah terjadi sejak dahulu kala, serta beragam pemikiran yang tumbuh dan berkembang pada tiap-tiap individu tersebut membuat kehidupan di dunia ini semakin beragam dan berwarna.

 

Akan tetapi pada era sekarang ini atau biasa disebut oleh ustadz Hamid Fahmi Zarkasyi sebagai zaman dimana orang-orang suka mempertanyakan dan mempermasalahkan sebuah kebenaran, karena sejatinya sesuatu perbuatan yang notabene masyarakat umum sudah sepakat akan keabsahan perbuatan tersebut adalah sebuah kebaikan. Akan tetapi sesuatu yang sudah ada konsepsi yang  sedemikian ini masih saja ada sebagian golongan yang mempertanyakan sumber dan tujuan orang melakukan perbuatan tersebut.

Sesungguhnya syetan memperdaya dan mempengaruhi manusia melalui dua cara, yakni dengan membisikan dan mendorong manusia untuk melampiaskan syahwatnya, serta yang kedua ialah memberikan sebuah keraguan kepada manusia dari sesuatu yang telah mereka pahami dan ketahui. Tak sedikit orang yang mempunyai pengetahuan yang luas akan tetapi dia dibuat kebingungan dari pengetahuannya tersebut akan adanya sesuatu yang Haq. Jikalau kita amati secara jeli dan teliti pada zaman sekarang ini ada beberapa cobaan atau tantangan yang sedang menjangkiti kaum muslimin. Tantangan tersebut berupa sebuah penyakit yang menyerang kinerja otak, bukan berarti otaknya tidak berfungsi akan tetapi hasil dari kinerja otak tersebut tidak sesuai dari apa yang diharapkan oleh Islam.

Ada beberapa cabaran yang sekarang ini sedang menjangkiti dan menyerang sebagian besar umat Islam, dari cabaran tersebut serta dibenturkan dengan beberapa kenyataan yang bersifat kontemporer dan alhasil ujung dari semua itu tidak lain ialah menghasilkan sudut pandang yang salah terhadap beberapa kenyataan tersebut. Dan, ada beberapa cabaran yang sekarang ini banyak menjangkiti dan menyerang umat Islam sehingga menghasilkan sudut pandang yang salah, diantara cabaran tersebut ialah :

   1.Materialisme

Paham ini menyerang sudut pandang seseorang dalam menyikapi sebuah persoalan yang sedang dialaminya, serta menyerang landasan dan tujuan seseorang untuk melakukan sebuah pekerjaan. Materialisme adalah sebuah paham yang menjadikan pengikutnya hanya berorientasi kepada sesuatu yang mampu di indera saja, penganut paham materialisme tidak percaya akan adanya pahala dan akhirat. Sebab pahala dan akhirat bersifat ghaib dan tidak bisa di indera, oleh karena itu sesuatu yang bersifat tidak bisa di indera adalah sebuah dongeng dan mitos belaka menurut mereka.

Ada sebuah paham yang sering disamakan dengan paham materialisme sekarang ini,  paham tersebut adalah paham Antroposentris. Paham ini merupakan sifat yang berorientasi kepada sebuah penghargaan atau berusaha untuk memperoleh pengakuan semu dari makhluk. Dalam arti lain penganut paham ini ialah segolongan manusia yang haus akan penghargaan dan pengakuan serta minimnya ia mendapatkan dua hal tersebut. Dalam sebuah kalimat yang sedikit sarkas di dalamnya dalam menggambarkan fenomena ini semua ialah “Segolongan manusia yang hanya mengedepankan unsur eksistensi dirinya semata dari pada sebuah esensi daripadanya”.  

Tujuan seseorang melakukan ini tidak lain hanya ingin menarik simpati dari seorang makhluk, serta ada sesuatu hal yang ingin dicapai olehnya. Sebuah orientasi yang bertujuan kepada sebuah penghargaan atau pengakuan sejatinya merupakan salah satu bentuk dari godaan duniawi, jika seseorang sudah menetapkan orientasi kepada sebuah penghargaan dan pengakuan semu makhluk sudah bisa dipastikan bahwasannya dia tidak mempunyai niat yang ikhlas guna mendapatkan sebuah balasan dari Allah SWT.

Paham materialisme atau antroposentrisme ini bisa juga dikategorikan sebagai sebuah perbuatan syirik dengan gaya yang baru, sebab sejatinya dalam konsep Islam salah satu landasan pokok dari diterimanya sebuah perbuatan adalah ikhlas dengan mengharap ridha Allah SWT dan tidak mengharap kepada selain-Nya.

2.  Sekulerisme

Sayyid Qutb pernah berseloroh perihal sekularisme, bahwa sekularisme merupakan pembangunan struktur kehidupan tanpa dasar agama. Karena itu, sekulerisme bertententangan dengan Islam, bahkan merupakan musuh Islam yang paling berbahaya.

Sekularisme adalah sebuah paham yang ingin untuk menanggalkan segala macam ritus keagamaan dalam ruang lingkup publik. Jargon yang sering digaungkan oleh penganjur paham sekuler yaitu “Agama adalah urusan privasi setiap individu, jangan sampai seseorang itu membawa ritus keagamaan mereka dalam ruang lingkup dan percakapan publik”.

Salah satu peristiwa yang melatarbelakangi munculnya proses sekularisasi adalah gerakan reformasi Protestan pada abad ke-16 yang lalu. Peristiwa ini terjadi dengan sebab banyaknya kejahatan yang terjadi di dalam lingkup gereja dengan tuduhan bahwa pihak gereja mempolitisir ritus keagamaan demi tercapainya keinginan pribadi pendeta pada gereja tersebut.

Pada akhir-akhir ini paham sekulerisme sungguh telah merebak dengan sangat pesat di kalangan mayoritas masyarakat Indonesia, lebih terkhusus pada sistem tata kelola negara kita. Satu hal yang sangat nampak dari paham sekularisme yang telah merebak di sistem tata kelola negara ini adalah dengan rencana penghapusan pasal-pasal yang berlandaskan pada sendi-sendi agama. Di beberapa daerah bahkan sudah banyak peraturan daerah (PERDA) yang berlandaskan sendi-sendi agama dan khususnya agama Islam sudah dihapuskan dan dihilangkan.

Para penganjur paham sekularisme ini sering mendasarkan kajiannya pada masa kepemimpinan Mustafa Kemal Attaturk ketika memimpin Turki setelah runtuhnya dinasti utsmani dahulu. Pada pemerintahan ini segala macam ritus keagamaan disingkirkan dan dibuang jauh-jauh dari ruang lingkup publik. Pada akhirnya paham ini sering disebut sebagai “Kemalisme”, akan tetapi setengah abad berlalu dari pelaksanaan konsep kemalisme ini Turki belum mendapatkan hasil yang signifikan dari diterapkannya konsep tersebut.

Dengan sedikit memaksa para penganjur paham sekularisme mendemokan gagasannya dengan berpendapat bahwasanya kalau sebuah negara modern atau maju itu pasti akan sekuler, Kalau sudah sekuler tentu akan modern, Agar menjadi sebuah negara yang modern mesti sekuler, Kalau tidak sekuler tidak akan menjadi negara yang modern dan begitu seterusnya.

Dari pendapat para penganjur tersebut yang kesannya sedikit memaksa perlu kita tarik benang merah perbandingan dengan negara Turki semenjak diterapkannya paham kemalisme, dan dengan sendirinya pendapat tersebut bisa terbantahkan dari peristiwa yang telah dialami oleh Turki.

3. Ananiyah atau Egoisme

            Manusia merupakan sebuah makhluk hidup yang memiliki keistimewaan dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain. Manusia mempunyai sebuah emosi dan diberi keleluasaan untuk mengatur emosinya, dengan kata lain manusia bisa mengatur emosinya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Islam.

Ananiyah atau egoisme adalah sebuah sifat yang sekarang ini sedang menjangkit mayoritas masyarakat Islam, ananiyah tidak jauh berbeda dengan sebuah paham antroposentris yang sudah dijelaskan di awal. Sejatinya seseorang yang memiliki sifat ananiyah ialah seorang yang haus akan pujian dan popularitas, biasanya seseorang yang memiliki sifat ananiyah menganggap dirinyalah yang paling sempurna dan tidak ada orang lain yang bisa menandinginya.

Dengan maraknya sifat ananiyah ini dalam jiwa seorang muslim sudah bisa dipastikan bahwa seorang muslim tersebut akan susah untuk melebur dan bersatu dalam satu wadah perjuangan. Karena satu syarat mutlak yang harus dimiliki dari sebuah wadah yang mempunyai langkah gerak dan tujuan yang sama adalah menanggalkan segala macam sesuatu yang bersifat pribadi atau ananiyah demi terwujudnya tujuan yang sudah disepakati dalam satu wadah tersebut.

Jikalau masih ada sifat ananiyah dalam wadah tersebut maka akan mustahil sebuah wadah tersebut bisa berjalan dengan saling beriringan di antara para penghuninya guna mencapai tujuan yang telah diidam-idamkan bersama

4.Ashabiyah dan Ghuluw

Sifat asli dari manusia adalah berkoloni dengan sebuah koloni yang memiliki satu frekuensi pemikiran yang sama dengannya, sebab manusia adalah makhluk sosial atau biasa disebut sebagai homo sosio. Akan tetapi tidak sedikit manusia dan lebih khususnya umat Islam yang terlalu membanggakan koloninya, mereka beranggapan hanya koloninyalah yang benar dan semua yang berlawanan dengan koloninya adalah salah.

Sikap yang terlalu berlebihan terhadap koloninya inilah yang disebut sebagai ashabiyah, sebuah ashabiyah tidak dibenarkan dalam Islam. Ashabiyah adalah step awal dari sikap ghuluw, sikap ghuluw jatuhnya sudah sangat terlalu ekstrem dengan menomor satukan koloninya dari setiap koloni yang berada diluar dari koloninya. Hal yang paling parah dari sikap ini ialah  menolak sebuah kebenaran yang berasal dari koloni yang berada diluar koloninya.

Sikap ini sekarang sedang merebak di kalangan umat islam dengan menutup mata dari koloni selain dari koloninya, bahkan sudah saling parahnya diantara dua koloni bahkan lebih sudah saling mengkafirkan satu dengan lainnya. Jikalau sudah demikian maka pihak yang paling diuntungkan adalah musuh Islam yang sangat nyata, mereka akan memiliki kinerja yang sedikit lebih muda ketika umat Islam sudah memiliki sikap yang seperti ini. Dengan sedikit menghembuskan sebuah isu maka dengan sendirinya umat Islam sudah saling serang di antara internal mereka.

Ada beberapa ayat Al-Quran yang sudah sangat jelas menerangkan akan pentingnya sebuah persatuan diantara kita dan tidak sedikit pula hadits – hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan akan hal tersebut, serta sudah banyak pula larangan dari Allah dan Rasulnya untuk bersikap ashabiyah terhadap sebuah kelompok dan bahkan sampai bersikap ghuluw terhadapnya.

Dan, inilah beberapa cabaran terbesar yang sedang dialami oleh umat Islam pada akhir-akhir ini, semoga segala macam cabaran tersebut bisa segera diselesaikan dan diatasi. Sebelum mengakhiri sedikit tulisan ini kami teringat sebuah pesan dari Syekh Yusuf al-Qardhawi perihal keadaan umat Islam sekarang ini, beliau pernah menggambarkan keadaan umat Islam sekarang ini dengan beberapa keadaan, diantaranya :

  1. Umat yang lupa akan agama, padahal mereka adalah umat yang terbaik
  2. Umat yang tenggelam di belakang timbunan kemajuan materi
  3. Umat yang daya fikirannya jumud, selalu mengikut dan tidak berdaya
  4. Umat yang kekuatan ekonominya tidak berfungsi
  5. Umat yang kuantitasnya belum berguna walaupun jumlahnya besar
  6. Umat yang kekuatan jiwanya tidak berdaya akibat mengutamakan kekuatan jasmani daripada rohani
  7. Umat yang sistem pendidikan dan media massanya tidak mendukung pembinaan pribadi umat Islam
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *