Seiring dengan meningkatnya curva korban dan orang yang terpapar virus ini maka banyak kebijakan yang diambil oleh pemerintah guna mencegah dan menanggulangi virus ini supaya tidak lagi menyebar. Mulai dari gagasan untuk me-lock down suatu daerah hingga ada suatu gagasan yang masih menimbulkan sebuah perdebatan tentangnya, yakni gagasan untuk menerapkan sistem herd immunity. Terlepas dari gagasan mana yang akan diterapkan oleh pemerintah, kita hanya mampu untuk berharap semoga gagasan tersebut menjadi sebuah pilihan yang terbaik.

Dari semua kebijakan yang telah ditempuh oleh pemerintah ada sebuah kebijakan yang perlu kita cermati, yakni sebuah kebijakan yang meliburkan seluruh proses kegiatan belajar mengajar, mulai dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Dengan ditempuhnya kebijakan tersebut maka peran sentral sekarang untuk mendidik para penerus peradaban dibebankan kepada orang tua masing-masing. Meskipun peran sentral sudah diberikan kembali kepada orang tua masing-masing dari peserta didik pihak institusi pendidikan tidak serta-merta lepas tangan begitu saja, akan tetapi mereka masih memberikan kontrol kepada mereka dengan memberikan sebuah tugas kepada mereka.

Gagapnya Orang Tua

Proses kegiatan belajar mengajar seorang anak sekarang ini diambil alih sepenuhnya oleh kedua orang tuanya dan lebih khusus kepada seorang ibu. Akan tetapi kebijakan tersebut memiliki sebuah persoalan yang sangat mendasar yakni tingkat pendidikan dari orang tua seorang anak yang beraneka macam. Lantas, persoalan yang demikian ini salah siapa? salah anak yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi atau salah dari orang tua mereka yang enggan menambah dan mengembangkan potensi diri seiring dengan tumbuh kembang seorang anak. Bukankah sebuah kewajiban bagi orang tua untuk memberikan proses pendidikan yang layak lagi baik bagi anak-anak mereka.

Terkait proses pendidikan yang sekarang ini diambil alih secara penuh oleh orang tua dan khususnya seorang ibu. Dengan seiring berjalannya waktu proses yang demikian ini tak luput dari sebuah koreksi, oleh karena itu akhir-akhir ini tidak sedikit muncul sebuah meme terkait dengan hal tersebut, salah satunya ialah “Ibuku lebih galak dibanding guruku”. Sebuah meme yang tak seharusnya muncul di jagat jejaring sosial, bukankah seorang ibu memiliki sebuah kedekatan emosional yang sangat erat kepada anaknya. Serta, bukankah rumah itu merupakan tempat kembali yang paling nyaman dari suntuknya hiruk-pikuk dunia.

Jika sudah demikian kita harus menyalahkan siapa? Seharusnya sebuah institusi terkecil dari sebuah negara ini mampu untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh seorang anak sebagai bekal dia untuk mengarungi hiruk-pikuknya dunia sekarang ini. Sebuah persoalan besar yang tak seharusnya kita menutup mata akan hal tersebut, sebab anak adalah sebuah aset yang paling penting dari sebuah peradaban.

Gagalnya Proses Pendidikan Barat

Pada era sekarang ini proses pendidikan (Indonesia khususnya) banyak mengacu kepada Barat, serta proses pendidikan Barat tidak lain hanya bertujuan untuk mempersiapkan seorang manusia untuk mampu bersaing di dunia kerja, serta pendidikan Barat menitik beratkan kepada nilai-nilai jasmaniah dengan menyingkir kan nilai-nilai ukhrawiyah. Berpegang kepada output yang dikehendaki dari pendidikan Barat maka para generasi muda kita (Islam) berbondong-bondong masuk kepada fakultas atau jurusan yang paling diminati atau menggiurkan di dunia kerja nantinya.

Tak jauh berbeda antara kaum Adam dan kaum Hawa, semua berebut untuk mampu mengarungi dunia kerja yang dinilai keras. Apalagi sekarang ini ada sebuah konsep yang mengatasnamakan Gender Equality atau kesetaraan gender, kaum Hawa dituntut untuk minimal sejajar dengan kaum Adam bahkan kalau bisa melampauinya. Oleh karena itu kaum Hawa sekarang ini banyak disiapkan untuk mampu turun dalam dunia kerja, dengan konsekuensi melalaikan tugas sentralnya sebagai madrasah pertama bagi anaknya kelak.

Dengan konsep yang sedemikian rupa dirangkai dan kampanyekan oleh Barat maka hasil dari proses pendidikan tersebut adalah sebuah generasi yang miskin Iman. Bagaimana tidak, output yang diharapkan saja mampu mencetak manusia yang mampu bersaing dalam dunia kerja. Memang kita sebagai umat Islam tidak boleh melalaikan nasib kita di dunia ini, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Qasash ayat 77.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerah kan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”

Dalam tafsir Jalalain diterangkan bahwa “Tidak melupakan nasibmu di dunia” itu hanya sebagai wasilah atau perantara untuk menggapai balasan di akhirat kelak. Oleh karena itu konsep bekerja atau beramal di dunia menurut Islam tidak lain hanya sebagai salah satu upaya untuk mengais pahala disisi Allah SWT dan salah satu upaya untuk bertaqarrub kepada-Nya. Begitu juga orientasi awal dari seorang Muslim untuk bekerja dan beramal dalam perkara dunia tidak boleh menyelisihi akan hal tersebut.

Ada sebuah syair dari ustadz Hasib Amrullah yang dimuat dalam kanal podcast INSISTS yang mampu menggambarkan pendidikan kita saat ini, beliau adalah staf pengajar di Program Kaderisasi Ulama (PKU) universitas Darussalam Gontor Ponorogo sekaligus mahasiswa program doktoral pada kampus yang sama.

“ …. Belajar agama untuk apa?

itu pertanyaan biasa hari ini,

sebab orang mulai lupa apa fungsi agama dan apa untungnya beragama

pertanyaan lebih lagi adalah mau jadi apa belajar agama?

sekolah kita menuntut kepastian juga memastikan masa depan murid

jika kau ambil jurusan ini kau menjadi ini

jika kau menginginkan ini kau harus ambil ini

jika kau ambil jurusan agama

harusnya ada yang bisa kau tawarkan pada dunia

merubah hukumnya umpamanya

agar bisa diterima

ketakutan menyebar secara adil di hati pemegang kebijakan universitas negeri ini

juga di hati mahasiswa yang mengambil studi di dalamnya

instansi takut tak diakui

mahasiswa takut tak dapat kerjaan nanti

setelah waktu panjang dilalui dalam kebingungan menelaah teori-teori

akhirnya hanya untuk menjadi mesin produksi

bagiku usaha untuk mengumpulkan kapital

untuk menaikan derajat terpandang

pada jumlah uang dan materi kekayaan yang bisa dikumpulkan

pendidikan kita salah mengira

mestinya ia mengembangkan manusia bukan merubahnya menjadi mesin ekonomi

pendidikan kita salah prediksi

mestinya ia menyempurnakan jati diri peserta didiknya

bukan menyiapkan mesin yang diterima di pasar kerja nanti

pendidikan kita salah orientasi

mestinya menanamkan kehendak untuk hidup yang benar

bukan sekedar membenarkan kenyataan yang terjadi

….”

Pendidikan Islam Sebagai Jalan Keluar

jika kita tarik secara islami maka fungsi dan tugas seorang ayah atau suami adalah memberikan dan mencukupi kebutuhan bagi anggota keluarganya, baik itu kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Akan tetapi dari semua itu adalah mampu memberikan kepada segenap anggota keluarganya pendidikan ruhaniyah yang dikehendaki oleh agama. Serta, fungsi dari dari seorang ibu atau istri adalah mengurusi segala kebijakan internal dari rumah tangganya. Maka oleh karena itu peran sentral dari seorang ibu sangat diperlukan dalam menentukan proses pendidikan seorang anak, bukankah ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa ibu adalah madrasah yang pertama bagi seorang anak.

Oleh karena itu proses pendidikan terhadap seorang anak di titik beratkan kepada seorang ibu, akan tetapi seorang ayah tidak seharusnya berlepas tangan begitu saja terhadap proses pendidikan seorang anak. Sebab peran dari kedua orang tuanya lah yang akan menuntun serta mengeksplorasi bakat terpendam dari seorang anak. Bukankah seorang anak yang terlahir ke dunia dalam keadaan suci dan sesuai dengan fitrahnya, sebagaimana hadits Nabi SAW :

“Setiap sesuatu yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci atau sesuai dengan fitrahnya, maka kedua orang tuanya lah yang akan menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi” -Alhadits-

Dalam sebuah artikel  yang ditulis oleh Erma Pawitasari seorang doktor lulusan universitas Ibn Khaldun Bogor menawarkan beberapa prinsip dalam mendidik seorang anak (Akan tetapi tulisan tersebut dimuat ketika beliau masih menempuh program doktoralnya), diantaranya :

1. Menjadikan Allah sebagai tujuan
2. Memperhatikan perkembangan akal rasional
3. Memperhatikan perkembangan kecerdasan emosi
4. Praktek melalui keteladan dan pembiasaan
5. Memperhatikan pemenuhan kebutuhan hidup
6. Menempatkan nilai sesuai prioritas

Untuk mencapai semua yang dikehendaki tersebut ibulah yang memegang kuasa penuh untuk mampu merealisasikannya. Karena sebagaimana yang terdahulu ibu mempunyai peranan penting dalam segala urusan yang berkaitan dengan permasalahan di dalam rumah, termasuk di dalamnya perihal mendidik dan memberikan tarbiyah kepada seorang anak. Ada sebuah iklan yang terpampang di majalah Risalah yang dikeluarkan oleh Pimpinan pusat Persatuan Islam (PERSIS) di Bandung pada tahun 1980-an yang berbunyi “Hanya ibu yang bijak, yang mengerti pentingnya kegemaran membaca sejak dini…”.

Begitu sentralnya peran seorang ibu dalam mendidik dan mengeksplorasi bakat seorang anak, serta seorang ibu juga lah yang menjadi penentu tonggak peradaban agama mau dibawah kemana.  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *