Oleh: Abdurrahman Qasim, Bs.

Semakin sering Al-Qur’an dibaca dan diulang, tidak akan menjadikannya sebagai kitab yang menjenuhkan dan membosankan. Ketika anda membaca sebuah buku, kemudian anda mencoba mengulangnya sebanyak dua tiga kali, maka anda akan menemukan diri anda sampai pada titik kejenuhan. Dan hal serupa tidak akan dirasakan ketika anda berinteraksi dengan Al-Quran. Semakin sering dibaca, semakin sering Al-Qur’an diulang,  maka akan  semakin menambah kecintaan anda kepadanya. Keindahan bahasa yang dimilikinya, susunan setiap kata yang terdapat pada Al-Qur’an, bahkan  setiap huruf-huruf yang ada dalam Al-Quran memiliki arti dan makna yang menjadikan bangsa Arab tidak mampu membuat yang semisalnya. Para penyair Arab yang dikenal dengan kepiawaian mereka merajut kata menjadi syair-syair yang indah, nyatanya kemampuan mereka tidak dapat menandingi keindahan dan ketinggian bahasa yang ada pada Al-Qur’an. Mereka tidak mampu, meskipun hanya membuat satu surah yang semisalnya.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kami orang-orang yang benar.”(QS. Al Baqarah (2): 23)

Di antara mu’jizat terbesar Al-Quran adalah  mu’jizatul bayan dan balaghah yang juga dapat diartikan sebagai mu’jzat keindahan susunan bahasa yang terdapat pada Al-Qur’an. Menurut bahasa, kata mu’jizat berasal dari kata i’jaz diambil dari kata kerja a’jaza-i’jaza yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mu’jiz. kemampuan untuk melemahkan pihak lain,dinamai mu’jizat.

Menurut istilah, Mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku nabi sebagai bukti kenabiannya.

Di antara contoh keistimewaan dan keindahan susunan bahasa yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah firman Allah SWT di dalam QS: An-Nur: 02,

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, cambuklah keduanya dengan 100 kali dera.” Namun, pada konteks perilaku dosa yang lain, yaitu firman Allah di dalam QS:Al-Maidah: 38,

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan.” Pada pelaku zina, Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan terlebih dahulu perempuan yang berzina lalu disusul  laki-laki yang berzina, sedangkan pada prilaku mencuri Allah Subhanahu’Wata’ala mengedepankan penyebutan pencuri laki-laki dari pada pencuri wanita.

Apakah anda pernah bertanya dan merenung, ketika anda menbaca ayat-ayat tersebut, apakah benar ayat-ayat tadi hanya kebetulan dan tidak memiliki hikmah atau ini adalah pengetahuan baru  yang akan membuat anda semakin cinta dan takjub dengan Al-Qur’an?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *