(Winda Nurul Jannah Hilman-Mahasiswa BS Islamic Studies)

 

Bismillahirrahim

Menguak kembali rintisan-rintisan sejarah Islam saat ini. Terpancar cahaya nan kukuh, yang bersangkutpaut antara sejarah Islam dan hari kemenangan. Idul fitri kembali lagi ke fitrah atau dalam keadaan suci. Banyak orang mengartikan idul fitri sebagai hari kemenangan. Hari kemenangan yang hakiki adalah ketika Allah meridhoi hambanya pada hari Kiamat kelak”

Islamabad, sedang hujan deras dan hawa dingin terasa oleh kami di Asrama. Diantara teman-teman yang sedang merasa dingin, ada seseorang yang merasa hangat. Kehangatan akan kerinduannya pada Andalusia”

Secarik bisa diartikan, sepotong atau sepucuk. Pesan bisa diartikan nasihat, permintaan, dan amanat. Kata lebaran sendiri adalah hari setelah selesainya menjalankan puasa Ramadan, terkhusus pada 1 syawwal.

Nasihat, sebaik-baik nasihat adalah dimulai untuk diri sendiri. Maka kalimat dibawah ini, dicamkan kembali kepada diri.

Pertama, pada hari kemenangan ini, selalu ingatlah kemenangan itu harus dipertahankan. Mempertahankan amalan-amalan Ramadan pada bulan selanjutnya. Jujur, ini tidaklah mudah.

Kedua, Ingatlah! Orang yang menang di hari raya adalah mereka yang meraih ketakwaan, serta untuk meraih ketakwaan memerlukan perjuangan.

Ketiga, selalu ingatlah dengan ini, “ Puerto Del Suspero Del Moro” ini merupakan nama tempat yang menjadi desahan terakhir orang Muslim di Spanyol. Terjadi pada masa pemimpin terakhir di Negeri Andalusia, yakni Abu Abdillah Ash-Shagir.

Realita zaman sekarang terkesan jauh dengan hari kemenangan dahulu. Hari kemenangan saat ini jangan hanya diartikan selesai menunaikan amalan-amalan Ramadan saja. Tumbuhkanlah jiwa visioner pada masing-masing kalian untuk agama ini. Jika suatu hari nanti kalian pergi ke penjuru Eropa dan pergilah ke bukit ini di Spanyol. Tanamkan pada hati-hatimu kelak kami akan jayakan kembali Spanyol dengan Islam.

Keempat, jangan pernah lupa kata ini, “La Grande Aquila e Morta”  ini adalah tulisan dari sepucuk surat yang dikirim ke Roma. Yang berarti, “Sang elang perkasa itu telah tiada”. Siapa elang perkasa itu? Dialah Sultan Muhammad Al-Fatih. Saat kejadian itu mendadak langit Eropa merah merona, terang tersebab kembang api yang meriah. Seantero Eropa berbahagia atas wafatnya Al-Fatih. Nasihat ini yang paling penting, dikutipdari wasiat Al-Fatih kepada anaknya, “ Ikutilah jalan dan jejakku….”. Kita semua saat ini adalah penerusnya, maka lanjutkanlah!

Hari kemenangan, jangan selalu puas akan kemenangan yang biasa-biasa. Takwa untuk dirimu, dan kemenangan Islam untuk umat. Bukankah Rasulullah diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam? Maka lanjutkanlah! Kita tidak sendiri! Dan lanjutannya dari bait didalam surat wasiat Al-Fatih kepada anaknya, “Bekerjalah untuk meneguhkan agama ini, dan muliakanlah para pengikutnya”.

 

Akhir surat wasiat beliau mengutip Al-Quran surat Muhammad, ayat 7:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Dan kata yang terakhir, diulang kembaliSebaik-baik dakwahdimulai dari diri sendiri.” Maka nikmatilah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *