Oleh: Ibnu Fikri Ghozali (Mahasiswa LLB Shariah and Law Islamic University Islamabad)

Ramadhan adalah bulan mulia dan penuh berkah yang sekarang ditempuh oleh setiap muslim di dunia,  tak terkecuali masyarakat Indonesia yang sekarang berada di negara Pakistan. Bulan ini identik dengan dilipatgandakannya semua amal kebaikan orang beriman, bahkan Allah SWT telah menekankan dalam ayat Al-Qur’an betapa mulianya bulan ini yaitu bulan diturunkannya Al-Qur’an kalam Allah yang mulia.

Tak hanya itu, Allah SWT juga telah menjanjikan kebaikan sepuluh malam terakhir di bulan ini bagi siapa sajayang bisa memanfaatkannya dan terlebih lagi jika ia dapatmenemui malam yang lebih mulia daripada seribu bulan yaitu malam Lailatul Qodar.

Sebuah hari tanpa senyuman adalah hari yang tidak berguna” sedikit mengutip perkataan Charlie Chaplin yang tak asing di telinga kita. Dari kutipan tersebut kita bisa menyadari untuk menciptakan suasana bahagia kita tak perlu pusing atau bingung dengan mengumpulkan koin sebanyak mungkin. Akan tetapi, cukup dengan senyuman terhadap sesama itu sudah menimbulkan kebahagiaan tersendiri bagi si pemberi senyum dan orang yang diberikan senyuman. Takheran jika Islam selalu mengkampanyekan bahwa senyuman adalah bentuk sedekah bagi tiap orang yang melakukannya.

Tradisi yang biasa kita temukan di bulan Ramadhan yang menjadikan bulan ini penuh kehangatan dan kebahagiaan pada diri setiap orang sebagaimana pada Ramadhan sebelum-sebelumnya, kini kita sudah jarang temukan di bulan Ramadhan tahun ini. Bagaimana tidak, wabah Covid-19 yang sekarang melanda seluruh dunia seakan menghilangkan tradisi sakral di bulan Ramadhan seperti buka puasa bersama dan sholat tarawih berjamaah.

Di benak kita pasti selalu terngiang bagaimana rasanya ngabuburit bareng keluarga maupun kerabat untuk menunggu buka puasa bersama, atau serunya sholat  tarawih berjamaah dimana biasa kita temukan anak kecil berlarian di sekitaran masjid seakan menambah keseruan bulan Ramadhan. Ditambah dengan tadarus ayat suci Al-Qur’an yang terdengar melalui pengeras suara masjid maupun surau-surau kecil sehingga terasa komplit rasa khusuk di bulan Ramadhan.

Beda halnya dengan segelintir mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Pakistan tepatnya di International Islamic University of Islamabad (IIUI). Mereka yang sedari kemarindiisolasi dengan tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan kampus sejak pertama kali Covid-19 memasuki Pakistan sampai sekarang. Perwakilan pemerintah Indonesia di Pakistan pun sudah melakukan peringatan dini akan bahaya virus ini yaitu sejak bulan Maret kepada warganya di Pakistan termasuk kepada para mahasiswa untuk melakukan social distancing atau pembatasan interaksi.

Namun, merebaknya wabah Covid-19 ini tidak mengurangi rasa kekeluargaan para mahasiswa, justru para mahasiswa ikut bergotong-royong untuk mengadakan buka puasa bersama yang diadakan setiap hari Senin dan Rabu. PPMI Pakistan yang sedari awal sudah membentuk panitia kecil guna mengorganisir kegiatan mahasiswa di bulan Ramadhan ini sangat membantu untuk mewujudkan dinamika kehidupan mahasiswa Indonesia di Pakistan.  

Pada tiap setelah solat Ashar, panitia bulan Ramadhan memulai pekerjaannya dengan menyiapkan beberapa takjil yang sudah disiapkan sebelumnya seperti es teh, buah-buahan, dan kurma yang menjadi andalan untuk mengakhiri puasa sehari penuh. Bukan Cuma itu, mahasiswa yang lain di luar dari panitia banyak juga memberikan takjil tambahan dengan membuatkan beberapa makanan seperti gorengan dan kue-kue ringan.

Disinilah rasa kebahagiaan yang timbul pada diri kita meskipun  Ramadhan tahun ini jauh dari keluarga dan ditambah dengan adanya pandemi Covid19 ini tak mengurangi  sedikitpun kebahagiaan kami sebagai perantau dan tholibul ilmi di negeri Bhaijan’ ini. Di sini kami mempunyai keluarga kedua meskipun dilahirkan dari ibu yang berbeda namun kebersamaan ini yang menjadikan kita keluarga di negeri orang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *