Akhir-akhir ini jagad media sosial Indonesia digemparkan dengan dua youtuber Indonesia yang membuat sensasi dengan mengesampingkan esensi dari kontennya tersebut. Bahkan kontennya tersebut tidak ada esensinya sama sekali, hanya merupakan kegiatan panjat sosial untuk memperoleh eksistensi dan hanya sekedar untuk mengerek namanya ke puncak popularitas, serta tidak lain hanya ingin memperoleh rating yang tinggi dari kontennya tersebut. 

Beberapa minggu yang lalu ada sebuah peristiwa yang mencerminkan perilakunya tidak mempunyai akal atau nalar, sebuah youtuber dengan subscriber lebih dari empat juta melakukan sebuah eksperimen yang di luar batas kewajaran manusia. Youtuber tersebut menjanjikan segepok uang bagi seorang yang mau membatalkan puasanya di tengah hari bolong. Sebagai salah satu bentuk peribadatan yang sangat prestisius, youtuber tersebut mencoba menggeser makna yang paling esensi dari ibadah tersebut hanya dengan imbalan segepok uang saja.

Beberapa hadits Nabi juga menjelaskan tentang fadhilahpuasa dan orang yang berpuasa. Puasa merupakan salah satu ibadah yang Allah SWT ikut campur tangan secara langsung, dalam sebuah hadits diterangkan bahwa “Puasa itu hanya untuk Ku, dan Aku lah yang akan memberi balasan itu secara langsung ….” -Alhadits-.

Memang problem kita sekarang ini adalah bergesernya orientasi kita terhadap konsep pahala, bahkan tidak sedikit dari kita yang sudah tidak lagi percaya terhadap konsep tersebut. Konsep pahala tersebut seiring dengan bergulirnya waktu mulai terdegradasi dengan sebuah orientasi yang berasal dari peradaban Barat, orientasi keduniaan atau materialisme lah biasa disebutnya.

Sebuah orientasi yang hanya mengedepankan balasan atau imbalan berupa benda, penghargaan, pujian dan kesemuanya itu bersifat indrawi semata. Mereka membuang jauh-jauh konsep Islam terhadap sebuah pahala dan hari akhirat kelak mereka beranggapan bahwa pahala dan hari akhirat kelak merupakan sebuah ilusi yang belum bisa buktikan secara indrawi.

Tidak berselang lama dari peristiwa tersebut muncul lagi sebuah kejadian dari seorang youtuber Bandung dengan modus operandi yang tidak jauh berbeda dari kejadian sebelumnya, tidak lebih hanya mengejar popularitas semata dan eksistensi sesaat saja.

Berkedok hendak memberikan sebuah bantuan, akan tetapi  si youtuber tersebut mengganti isinya dengan sampah dan batu, sebuah perbuatan jalang yang tidak beradab. Perbuatan yang mencederai sisi kemanusiaan manusia, sebuah hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan bagi si penerima bantuan dan bahkan perbuatan tersebut malah menjadi ajang keisengan seonggok daging tanpa akal dan tanpa nurani.

Ditengah pandemi covid-19 ini masih saja ada seonggok daging yang mencari kesempatan untuk mencari sebuah popularitas dan eksistensi semata. Lebih parahnya lagi dia mencederai sisi kemanusian dengan mengatasnamakan bantuan sosial. Di satu sisi banyak dari saudara kita yang sudah tidak tahu lagi bagaimana dia akan melanjutkan hidup untuk hari esoknya.

Aspek kemanusian merupakan hirarki tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa harus memandang strata sosial bagi si empunya niat baik tersebut semua manusia bisa berperan aktif dalam aspek kemanusian ini. Membuang semua sekat strata sosial demi tercapainya aspek kemanusiaan ini.

Bukankah perbuatan ini dinamakan dengan bermain-main di atas kesulitan orang lain? atau bahkan lebih dari itu. Bisakah orang yang melakukan perbuatan tersebut diberi laqob “Ulaaika ka Al-an’am” atau “Balhum Adhal”? sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Araf ayat 179.

Memang benar kata Prof. Naquib Al-Attas bahwa persoalan manusia zaman sekarang ini adalah “Loss of adab”, semua perbuatan dari kedua youtuber tersebut tidak mencermin kan seseorang yang memiliki adab. Sebuah problem yang sangat fundamental dan hampir menyebar di seluruh lapisan masyarakat. Seorang yang notabene sudah memperoleh gelar pun kadang perilakunya tidak mencerminkan seorang yang tidak beradab. Adab bukanlah sesuatu yang bersifat final, akan tetapi adab itu bisa dilatih dan dibiasakan dalam keseharian kita.

Memang manusia sejatinya adalah makhluk sosial atau biasa juga disebut dengan homo socius. Di samping sebagai makhluk sosial, manusia juga merupakan makhluk yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT sebuah keistimewaan yang tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain. Akal lah namanya, meskipun secara kasat mata tidak bisa untuk di indera namun perbuatan manusia lah yang merupakan bukti nyata dari orang tersebut mempunyai akal atau tidak.

Teringat sebuah gurindam dua belas dari Raja Ali Haji pasal keempat yang berbunyi :

Hati itu kerajaan di dalam tubuh

Jikalau zalim segala anggotapun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah

Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir

Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela

Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong

Boleh di umpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka

Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah

Itulah perampok yang amat gagah

Barang siapa yang sudah besar

Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barang siapa perkataan kotor

mulutnya itu umpama ketor

Dimana tahu salah diri

jika tidak orang lain yang berperi

Semoga dua peristiwa tersebut bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih mengasah sisi kemanusiaan kita dan menjadi bahan renungan bagi kita untuk menjadi individu yang lebih baik lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *