(Telaah buku mempersatukan umat karya M. Natsir)

Siapa yang tak mengenal sosok Mohammad Natsir, seorang pria kelahiran 17 Juli 1908 di Alahan Panjang Sumatera Barat ini sudah banyak malang melintang dalam percaturan nasional dan internasional. Beliau pernah menjabat sebagai perdana menteri pertama bagi Indonesia, pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal rabithah alam islami di Beirut Lebanon, pernah juga menjabat sebagai ketua partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia dan tak kalah pentingnya beliaulah yang menginisiasi berdirinya dewan dakwah islamiyah Indonesia sekaligus menjabat sebagai ketua yang pertama. Pada masa orde lama beliau pernah diangkat oleh Ir. Soekarno sebagai menteri penerangan, tak berselang lama ketika tahun 1950 beliau juga yang mempelopori terbentuknya negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) yang tak lama lagi akan kita peringati hari tersebut.

Dalam buku tersebut ada beberapa pasal yang mampu untuk mendeskripsikan umat pada masa tersebut, yang jika kita mau untuk menariknya hingga sekarang ini pun masih sangat relevan. Mulai dari pondasi untuk bersatu adalah sebuah keimanan, karena dalam surah Al-Hujurat ayat 10 khitab yang Allah gunakan adalah “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menggunakan khitab islam, karena sejatinya dalam Islam Iman merupakan hierarki yang paling tinggi dalam sebuah keyakinan beragama.

Dalam pasal yang kedua beliau menyinggung bahwasannya sebuah persatuan itu persoalan hati, tidak semata-mata soal ilmu dan pengetahuan. Semua khalayak paham bahwa sebuah persatuan itu merupakan sebuah kebaikan dan impact yang akan kita peroleh dari sebuah persatuan tersebut ialah sesuatu yang positif. Dalam buku tersebut diterangkan bahwa “Soal persatuan ialah terutama soal kalbu, soal hati, soal widjah, ja’ni tudjuan hidup jang diniatkan oleh hati hendak ditjapai. Dan soal kebersihan amal untuk mentjapai tudjuan itu dengan keichlasan hati”.

Widjah atau tujuan hidup dan mati seorang muslim tidak lain melainkan hanya mengharap ridha Allah SWT, inilah motif dari seorang muslim untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkan sesuatu. ini juga sebagai motif untuk menyatakan suatu pendapat atau berdiam diri akan hal tersebut, ini semua niatnya hanya untuk beribadah dan beramal shalih. Untuk mendapat ridha Allah SWT dan bukan untuk mendapat ridha manusia semata, dan bukan “asal aku senang” atau “asal golonganku menang”.

Sekarang ini muncul beragam firqoh atau kelompok yang mengatasnamakan Islam, mulai dari melihat dari sesuatu perkara dari sudut pandang madzhab atau tujuan yang akan dicapai oleh firqoh tersebut. Akan tetapi menurut pak Natsir itu semua tak jadi soal untuk menumbuhkan sebuah persatuan, serta banyaknya firqoh juga tidak menandakan munculnya sebuah perselisihan atau perpecahan. Tafarruq dan Tanazuq, sikut menyikut muncul bukan karena banyaknya firqoh, akan tetapi oleh karena ditengah perjalanan widjah yang diniatkan dan dirumuskan menjadi samar-samar dan kabur.

Seiring dengan banyaknya orang yang menyeru akan sebuah persatuan dengan itu pula banyak pikiran yang diinisiasi olehnya untuk memaksakan sebuah persatuan. Dengan dalih mereka sudah jengah dengan keadaan umat yang sedemikian rupa ini, oleh karena hal tersebut mereka memaksakan kehendaknya untuk segera mempersatukan umat. Akan tetapi menurut pak Natsir sebuah persatuan yang bersifat dipaksakan maka sebuah persatuan tersebut tidak akan berlangsung lama. Jika kita kaitkan dengan fenomena zaman sekarang maka akan timbul sebuah konklusi bahwasannya sebuah persatuan umat akan mudah terbentuk ketika umat Islam dihadapkan pada satu permasalahan yang sama, akan tetapi persatuan model yang begini akan luntur dan pudar ketika masalah yang dihadapi tersebut telah mampu terselesaikan.

Nah, yang model begini ini adalah salah satu contoh persatuan umat yang sedikit dipaksakan. Walhasil persatuan tersebut tidak mampu untuk bertahan lama.

Dalam buku tersebut juga pak Natsir memberikan saran untuk kita bersatu, ada empat saran dari pak Natsir untuk kita sekarang ini semoga bisa dan mampu untuk sesegera mungkin dapat bersatu.

 1. Para pemimpin dari setiap firqoh dalam Islam hendaknya saling introspeksi diri, melihat diri mereka pribadi dengan sebuah sudut pandang yang objektif.

2. Masing-masing dari mereka hendaknya mempunyai inisiatif untuk memperkuat lagi ikatan ukhuwah yang telah kendor ini bahkan bisa dikatakan telah putus.
3. Tali ukhuwah yang notabene sudah diperkuat tersebut hendaknya mampu untuk membuka peluang diskusi yang lebih objektif diantara firqoh tersebut tanpa adanya prasangka yang buruk diantara mereka.
4. Apabila tali ukhuwah yang sudah mampu terjalin di antara para ulama dan zuama’ maka tidak menutup kemungkinan para anggota dari firqoh tersebut akan saling berdiskusi di antara mereka tentang hal-ikhwal permasalahan umat sekarang ini.

Sebelum menutup uraian yang singkat ini kami teringat sebuah pesan dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) K.H. Hasyim Asy’ari bahwasannya “….Belum jugakah tiba masanya kita insaf? Belum jugakah tiba masanya kita akan sadar dari kemabukan ini? Dan bangun dari kelalaian kita? Belum jugakah kita mengerti bahwa kemenangan kita semua bergantung kepada bantu-membantu dan persatuan yang perlu diantara kita?”.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *