(karya Abu Al-a’la Al-maududi)

Buku ini sebenarnya adalah kutipan khutbah beliau pada musim haji tahun 1381 H atau bertepatan pada tahun 1962 M serta judul asli dari buku ini adalah “Wajibu as-syabab almuslim alyauma”, dan di terjemahkan ke dalam bahasa melayu oleh seseorang yang berkebangsaan malaysia. Sekilas tentang Abu al-a’la almaududi, beliau lahir pada tahun 1903 di sebuah kota yang tidak terlalu besar yakni Aurangbad atau sekarang lebih terkenal dengan kota Hyderabad yang terletak di sebelah selatan negara Paakistan. Hyderabad terletak lumayan jauh dari ibu kota Pakistan yakni Islamabad, jika ditempuh menggunakan bis mungkin akan memakan waktu 20 jam perjalanan. Pada usia yang relatif muda beliau sudah di aanahi memimpin sebuah surat kabar lokal yang bernama “Taj”, ketika memasuki usia yang kedua puluh enam tahun beliau menulis buku yang sangat fundamental dan diberi nama “Aljihadu fi alislam”. Seperti halnya pemimpin kaum atau kelompok pada masa kolonial dahulu Al-maududi tidak jarang keluar masuk penjara, itu dikarenakan beliau menentang kolonial dan menyuarakan di depan khalayak ramai. Ada sebuah peritiwa yang menarik ketika Al-maududi sedang berada di balik jeruji tahanan, ketika itu beliau dijatuhi vonis hukuman mati. Pihak inggris ketika itu yang sedang menjajah daera anak benua kecil yang mencakup India, Pakistan, Bangladesh dan Maladewa memberikan suatu tawaran kepada Al-maududi untuk meminta belas kasihan kepada pihak penjajah akan tetapi dengan tegasnya Al-maududi menjawab “…Saya lenih baik menyerah jiwa raga saya kepada Allah daripada mengemis kepada seseorang pemerintah yang zalim. Jika memang Tuhan menghendaki, maka dengan ikhlas saya menyerahkan jiwa dan raga ini. Tetapi jika tidak dengan kehendak-Nya, apapun yang diperbuat, mereka tidak akan mampu melakukan sesuatu pun atas diriku…”. Maududi adalah seorang pejuang yang sangat gigih memegang prinsip, setelah 26 bulan di dalam jeruji penjara Maududi di bebaskan atas keputusan mahkamah tinggi.

Buku ini sebenarnya berisi perihal keresahan seorang Al-maududi terhadap generasi setelahnya selepas negara – negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim terbebas dari kolonialisme. Al-maududi membagi umat muslim yang ada di dunia ini menjadi 2 :

Muslim yang mendiami suatu kaum atau bangsa dan mereka itu menjadi mayoritas di kaum tau bangsa tersebut.
Muslim yang mendiami suatu kaum tau bangsa akan tetapi mereka itu sebagai minoritas dalam kaum tau bangsa tersebut.
Karena dalam pandangan Maududi sebuah kolonialisme pasti memberikan bekas terhadap bangsa yang dijajahnya, baik itu perubahan yang bisa langsung dirasakan efeknya ataupun perubahan yang efeknya dalam kurun waktu yang sangat panjang. Dalam buku ini pula Al-maududi membeberkan taktik penjajah ketika menjajah sebuah kaum atau bangsa, Al-maududi menyebutkan bahwa taktik penjajah sekurang – kurangnya ada tiga fasal :

Penjajah akan merombak sistem pelajaran dan pendidikan di kaum atau bangsa jajahannya.
Menukar atau mengganti bahasa dari kaum atau bangsa tersebut dengan cara yang halus.
Membentuk atau membuat generasi selanjutnya menjadi buta atau jahil akan Islam. Mereka akan membuat desain yang sangat lembut sehingga generasi selanjutnya itu tidak menyadari bahwa mereka sedang terbuai dan terlena.
Dalam buku ini pula Al-maududi menyebutkan kewajiban yang harus dilakukan oleh pemuda muslim, diantaranya :

Jadilah seorang pemuda muslim yang kaffah, serta memberikan efek atau warna dalam kehidupan sehari – hari.
Membetulkan kembali pikiran, akal dan budi pekerti yang dirusak oleh bangsa penjajah dan jadilah seorang muslim yang sejati.
Curahkan segenap daya dan usaha untuk melanjutkan risalah kenabian dan menegakkan agama Allah di muka bumi ini.
Buatlah sebuah komunitas yang mempunyai visi dan misi yang senada guna memudahkanmu dalam melanjutkan risalah kenabian.
Kerja keraslah dalam berdakwah dan jangan sampai berputar haluan.
Tegakkanlah Islam di atas pondasi yang kokoh, sehingga tidak mudah mudah goyah ketika di terpa angin dari kiri dan kanan.
Di halaman terakhir buku ini ada sebuah nasehat yang tak kalah pentingnnya, Al-maududi memberikan sebuah nasehat yang berisi tentang sebuah himbauan untuk tidak menegakkan pekerjaan ini dengan perorangan atau individualistik. Serta Al-maududi juga melarang kita untuk menegakkan agama Allah dengan cara kekerasan untuk mengubah suasana yang sedang berlaku di masyarakat. Karena yang demikian itu adalah sebuah arti bahwa kita sedang terburu – buru dan dengan cara tersebut kita tidak akan meninggalkan kesan yang baik dalam perjuangan. Beliau juga berpesan jangan sekali – kali kita mengambil jalan pintas untuk menggapai tujuan kita karena sejatinya hal yang demikian itu akan menimnulkan suatu kemudharatan yang besar. semestinya dalam suatu perjuangan kita selalu menampilkan akhlak yang menarik, nilai yang luhur, budi pekerti yang baik, nasehat yang bagus serta kebijaksanaan yang tinggi.

Oleh karena itu hendaklah kita melanjutkan risalah kenabian dan menegakkan agama Allah dengan cara berterus terang, serta hendaklah kita selalu bermuhasabah akan setiap kelalaian yang telah kita perbuat dan selalu melakukan perbaikan akal fikiran dan jiwa manusia dengan kegiatan yang seluas mungkin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *